Penulisan ini membahas transformasi nilai kearifan lokal Sulapa Eppa dalam dinamika sosial modern dengan menggunakan teori habitus Pierre Bourdieu sebagai kerangka analisis. Sulapa Eppa, sebagai falsafah kosmologi masyarakat Bugis yang memuat empat unsur dasar, seperti, angin, api, air, dan tanah yang menjadi pondasi pembentukan nilai moral seperti macca (cerdas), malempu (jujur), warani (berani), dan getteng (teguh). Nilai-nilai ini telah lama membentuk habitus masyarakat Bugis melalui pewarisan budaya dan praktik komunal. Namun, modernisasi, globalisasi, dan perkembangan teknologi digital menciptakan arena sosial baru yang memengaruhi cara masyarakat Bugis menafsirkan, mempertahankan, maupun menyesuaikan nilai-nilai tersebut. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka untuk menganalisis literatur terkait Sulapa Eppa, dinamika perubahan sosial, dan teori habitus Bourdieu. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun beberapa praktik budaya mengalami pelemahan, nilai inti Sulapa Eppa tetap bertahan melalui negosiasi dan adaptasi dalam arena pendidikan, ekonomi, dan budaya digital. Modal budaya, sosial, ekonomi, dan simbolik memainkan peran penting dalam menjaga keberlanjutan nilai Sulapa Eppa, sementara agen budaya seperti pemuka adat dan lembaga pendidikan menjadi aktor kunci dalam mempertahankan kuasa simboliknya di era modern
Copyrights © 2025