Pertumbuhan pesat Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) telah sepenuhnya mengubah cara pembelajaran dilakukan di pendidikan tinggi melalui sistem akademik otomatis dan platform pengetahuan digital. Meskipun AI menawarkan efisiensi dan aksesibilitas, teknologi ini juga menghadirkan kekhawatiran etis terkait integritas akademik dan ketergantungan intelektual. Penelitian ini menilai persepsi etis mahasiswa mengenai penggunaan AI dalam pendidikan tinggi berdasarkan kerangka maqāṣid al-sharī‘ah, khususnya pemeliharaan akal (ḥifẓ al-ʿaql). Temuan utama menunjukkan bahwa mahasiswa umumnya melihat AI sebagai sesuatu yang bermanfaat dalam meningkatkan efisiensi pembelajaran. Di sisi lain, muncul kekhawatiran etis penting terkait ketergantungan berlebihan pada AI, penurunan kemampuan berpikir kritis, keluaran yang bias, serta ancaman terhadap kejujuran akademik. Tata kelola institusional dinilai sebagai salah satu dimensi yang paling kuat didukung, yang berarti bahwa mahasiswa mengharapkan universitas menjadi pihak utama dalam mengatur penggunaan AI secara etis. Kesadaran etika Islam memang ada, tetapi masih kurang diterapkan secara sistematis dalam praktik akademik sehari-hari. Hasil ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk melembagakan tata kelola etis berbasis maqāṣid dalam pendidikan tinggi. Studi ini merekomendasikan dua hal: memasukkan literasi etika Islam ke dalam kurikulum dan menetapkan kebijakan akademik yang jelas untuk memastikan penggunaan AI yang bertanggung jawab.
Copyrights © 2026