Tradisi Tabot di Bengkulu berakar dari peringatan tragedi Karbala, namun melalui proses akulturasi dengan budaya lokal, ia bertransformasi menjadi identitas religio-kultural masyarakat setempat. Artikel ini bertujuan menganalisis Tabot sebagai ekspresi teologi kontekstual, yaitu wujud iman yang menafsirkan nilai-nilai universal Islam pengorbanan, keadilan, dan solidaritas dalam bingkai budaya lokal Bengkulu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode hermeneutik untuk menafsirkan simbol-simbol religius Tabot, serta triangulasi literatur untuk menjaga validitas interpretasi lintas disiplin (teologi, antropologi, dan budaya). Hasil kajian menunjukkan bahwa Tabot tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai media penguatan identitas budaya, sarana pendidikan nilai moral, dan ruang dialog antaragama. Dari perspektif teologi Kristen, Tabot memiliki resonansi dengan pengorbanan Kristus, sehingga membuka peluang refleksi lintas iman dan teologi pluralisme. Kebaruan penelitian ini terletak pada pembacaan Tabot sebagai bentuk teologi kontekstual lintas agama yang berimplikasi pada pengembangan pendidikan agama, pelestarian budaya lokal, dan penguatan dialog antarumat beragama di Indonesia. studi ini juga dapat memperkaya literatur teologi kontekstual di Indonesia melalui pendekatan hermeneutik simbolik
Copyrights © 2026