Pantai Utara, Semarang merupakan kawasan perairan yang padat aktivitas pelabuhan, antropogenik, dan domestik yang berpotensi membuang limbah logam berat, seperti Timbal (Pb) ke perairan. Penelitian ini bertujuan untuk memantau konsentrasi Pb pada air laut, sedimen, dan kerang hijau. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kuantitatif dan teknik purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan dua periode (September dan Oktober 2024) di empat stasiun dengan dua kali pengulangan, mencakup pengukuran parameter kualitas air secara in – situ. Sampel yang dianalisis meliputi air laut, sedimen, dan kerang hijau, menggunakan metode Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) di Laboratorium BBTPPI, Semarang. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi Pb pada kerang hijau lebih tinggi pada Oktober, sedangkan pada sedimen lebih tinggi pada September (6,972–12,720 mg/kg). Konsentrasi Pb pada air laut Oktober (<0,0030 mg/kg) lebih tinggi dibanding September (<0,0021 mg/kg). Kerang hijau dari stasiun II (lokasi budidaya) tercatat melebihi baku mutu (1,650 mg/kg). Nilai Bioconcentration Factor (BCF) berada pada kategori sedang (100 < BCF ≤ 1000), dan Contamination Factor (CF) lebih tinggi pada periode September. Jenis sedimen didominasi pasir lempung (loamy sand) yang memiliki daya adsorpsi lebih tinggi dibanding pasir (sand). Kerang hijau yang berukuran besar dan berumur lebih tua menunjukkan akumulasi Pb yang lebih tinggi. Secara keseluruhan, konsentrasi Pb pada air dan sedimen di lokasi penelitian tidak melebihi baku mutu, sedangkan pada kerang hijau yang melebihi atau mendekati baku mutu perlu ditindaklanjuti.
Copyrights © 2025