Perubahan iklim global telah meningkatkan frekuensi dan intensitas kejadian iklim ekstrem, termasuk kekeringan yang berdampak signifikan terhadap sektor pertanian dan ketersediaan air di wilayah pesisir utara Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat bahaya, kerentanan, dan risiko bencana kekeringan di Kabupaten Indramayu, serta memproyeksikan kondisi tahun 2031 berdasarkan model iklim MIROC6 dengan dua skenario, yaitu SSP2-4.5 dan SSP5-8.5. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif dengan dukungan analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG), yang mengintegrasikan parameter curah hujan, suhu udara, jenis tanah, penggunaan lahan, kelerengan, kepadatan penduduk, kebutuhan air, serta kapasitas adaptasi wilayah. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kondisi proyeksi terjadi pergeseran kelas risiko kekeringan, ditandai dengan berkurangnya wilayah berisiko tinggi dan meningkatnya wilayah berisiko rendah hingga menengah, terutama pada skenario SSP5-8.5. Meskipun demikian, beberapa kecamatan seperti Gantar, Haurgeulis, Sindang, Anjatan, dan Indramayu tetap menjadi hotspot kekeringan akibat tingginya kebutuhan air dan keterbatasan kapasitas adaptasi. Penurunan sensitivitas wilayah dan peningkatan kapasitas adaptasi menunjukkan adanya pengaruh positif dari kebijakan pengelolaan sumber daya air daerah, meskipun masih terjadi ketimpangan antarwilayah. Temuan ini menegaskan perlunya strategi adaptasi yang lebih terarah dan berbasis data, penguatan kapasitas kelembagaan, serta kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ketahanan wilayah terhadap ancaman kekeringan di masa depan.
Copyrights © 2025