ABSTRACT Dyspepsia is a prevalent gastrointestinal disorder commonly encountered in clinical practice, presenting with symptoms such as epigastric pain, bloating, abdominal fullness, belching, nausea, and vomiting. In west Nusa Tenggara, the number of dyspepsia cases reported at primary healthcare centers increased substantially from 36,004 cases in 2021 to 56,098 cases in 2022. Various factprs are believed to contribute to the occurrence of functional dyspepsia, including coffee consumption, the use of NSAIDs, and smoking habits; however, findings from previous studies remain inconsistent. This Study aimed to examine the asssociation between coffee consumption, history of non-streoidal anti-inflammatory drug (NSID) use, and smoking degree with the incidence of functional dyspepsia at Selaparang Primary Healthcare Center. An observational analytic study with a cross-sectional design was conducted among 92 patients selected using consecutive sampling. Coffee consumtion and NSAID use were analyzed using the Chi-Square test, while smoking degree was analyzed using the Spearmen Rank correlation test. Statistical significance was set at p0,05. Functional dyspepsia was identified in 68 respondents (73,9%). Coffee consumption was significantly associated with functional (p=0,000; PR=7,43; CI 95%: 2,76-19,9). Smoking degree also showed a significant positive correlation with use and functional dyspepsia (P=0,001; r=0,354). However, No. significant association was found between OAINS use and functional dyspepsia (p=0,411; PR=1,49; CI 95%: 0,40-5,50). Coffee consumption and smoking degree are significantly associated with functional dyspepsia, whereas OAINS use does not show a statistically significant association with functional dyspepsia. Keywords: Functional Dyspepsia, Coffee Consumption, Nsaids, Smoking. ABSTRAK Dispepsia merupakan gangguan pencernaan yang sering dijumpai di klinis dan ditandai oleh gejala nyeri epigastrium, kembung, cepat kenyang, rasa penuh di perut, sering bersendawa serta mual dan muntah.DI Nusa Tenggara Barat (NTB), pada tahun 2021 dispepsia menjadi penyakit keenam yang paling sering dijumpai di puskesmas, dengan jumlah kasus mencapai 36.004. Angka tersebut mengalami peningkatan pada tahun 2022, yakni menjadi 56.098. Berbagai faktor diduga berperan dalam terjadinya dispepsia fungsional, antara lain konsumsi kopi, penggunaan OAINS, dan kebiasaan merokok, namun hasil penelitian sebelumnya masih menunjukkan adanya perbedaan temuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsumsi kopi, riwayat penggunaan OAINS, dan derajat merokok dengan kejadian dispepsia fungsioal di Puskesmas Selaparang. Metode penelitian ini kuantitatif dengan desain analitik observasional. merupakan analitik observasional dengan rancangan cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan tehnik Consecutive Sampling pada pasien yang berkunjung ke Puskesmas Selaparang, dengan jumlah sampel sebanyak 92 orang. Analisis data bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk variabel konsumsi kopi dan riwayat penggunaan OAINS, serta uji Spearman Rank untuk variabel derajat merokok dengan tingkat signifikasi 0,05Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden sebanyak 68 orang mengalami dispepsia fungsional (73,9%). Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi kopi dengan dispepsia fungsional (p=0,000; PR=7,43; CI 95%: 2,76-19,9). Derajat merokok juga menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian dispepsia fungsional (p=0,001; r=0,354). Sebaliknya, riwayat penggunaan OAINS tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik dengan kejadian dispepsia fungsional (p=0,411; PR=1,49; CI 95%: 0,40-5,50). Kesimpulan dari penelitian ini adalah konsumsi kopi dan derajat merokok berhubungan signifikan dengan kejadian dispepsia fungsional, sedangkan penggunaan OAINS tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kejadian dispepsia fungsional secara statistik. Kata Kunci: Dispepsia Fungsional, Konsumsi Kopi, OAINS, Merokok.
Copyrights © 2026