Lalu Buly Fatrahady Utama
Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Al-Azhar Mataram

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Adekuasi Hemodialisis terhadap Kualitas Hidup, Kecemasan, dan Status Gizi Pasien Ginjal Kronis di RSUD Provinsi NTB Nur Raihan Ramdhani; Lalu Buly Fatrahady Utama; I Gede Angga Adnyana; Irwan Setiobudi
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i3.24632

Abstract

ABSTRACT Chronic kidney disease is a global health problem with a continuously increasing prevalence. In the end stage, patients require long-term hemodialysis therapy, in which hemodialysis adequacy plays an important role in controlling uremic symptoms and influencing patients’ quality of life, anxiety levels, and nutritional status. This study aimed to analyze the relationship between hemodialysis adequacy and quality of life, anxiety, and nutritional status among chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis at the Provincial General Hospital of West Nusa Tenggara in 2025.This study employed a quantitative method with an observational analytic design. The sampling technique used was purposive sampling, involving 90 chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis. Data were analyzed using the Chi-square test with a significance level of p-value 0.05.The results showed that the majority of patients had adequate hemodialysis adequacy, totaling 72 respondents (60.0%), good quality of life in 68 respondents (56.7%), mild anxiety levels in 70 respondents (58.3%), and normal nutritional status in 65 respondents (54.2%). The Chi-square test indicated a significant relationship between hemodialysis adequacy and quality of life (p-value = 0.003), anxiety level (p-value = 0.001), and nutritional status (p-value = 0.004).In conclusion, hemodialysis adequacy is significantly associated with quality of life, anxiety levels, and nutritional status among chronic kidney disease patients at the Provincial General Hospital of West Nusa Tenggara in 2025. Keywords: Quality of Life, Chronic Kidney Disease, Gender, Self-Efficacy, Therapy Adherence.  ABSTRAK Penyakit ginjal kronis merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat. Pada stadium akhir, pasien memerlukan terapi hemodialisis jangka panjang, di mana adekuasi hemodialisis berperan penting dalam mengendalikan gejala uremia serta memengaruhi kualitas hidup, tingkat kecemasan, dan status gizi pasien. Tujuan penelitian adalah menganalisis hubungan adekuasi hemodialisis terhadap kualitas hidup, kecemasan, dan status gizi pasien ginjal kronis yang menjalani hemodialisis di RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat tahun 2025.Metode penelitianinikuantitatif dengan desain analitik observasional. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 90 pasien ginjal kronis yang menjalani hemodialisis. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square dengan batas nilai signifikansi p-value 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki adekuasi hemodialisis yang adekuat sebanyak 72 responden (60,0%), kualitas hidup baik sebanyak 68 responden (56,7%), tingkat kecemasan ringan sebanyak 70 responden (58,3%), serta status gizi normal sebanyak 65 responden (54,2%). Uji Chi-square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara adekuasi hemodialisis dengan kualitas hidup (p-value = 0,003), tingkat kecemasan (p-value = 0,001), dan status gizi (p-value = 0,004). Kesimpulan penelitian ini adalah adekuasi hemodialisis berhubungan signifikan dengan kualitas hidup, tingkat kecemasan, dan status gizi pasien ginjal kronis di RSUD Provinsi NTB tahun 2025. Kata Kunci: Adekuasi Hemodialisis, Penyakit Ginjal Kronik, Kualitas Hidup, Kecemasan, Status Gizi.
Hubungan Konsumsi Kopi, Riwayat Penggunaan Oains, dan Derajat Merokok dengan Kejadian Dispepsia Fungsional di Puskesmas Selaparang Kota Mataram Nur Hayatul Fitrah; Lalu Buly Fatrahady Utama; Dian Rahadianti; Risky Irawan Putra Priyono
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 4 (2026): Volume 8 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i4.24728

Abstract

ABSTRACT Dyspepsia is a prevalent gastrointestinal disorder commonly encountered in clinical practice, presenting with symptoms such as epigastric pain, bloating, abdominal fullness, belching, nausea, and vomiting. In west Nusa Tenggara, the number of dyspepsia cases reported at primary healthcare centers increased substantially from 36,004 cases in 2021 to 56,098 cases in 2022. Various factprs are believed to contribute to the occurrence of functional dyspepsia, including coffee consumption, the use of NSAIDs, and smoking habits; however, findings from previous studies remain inconsistent. This Study aimed to examine the asssociation between coffee consumption, history of non-streoidal anti-inflammatory drug (NSID) use, and smoking degree with the incidence of functional dyspepsia at Selaparang Primary Healthcare Center. An observational analytic study with a cross-sectional design was conducted among 92 patients selected using consecutive sampling. Coffee consumtion and NSAID use were analyzed using the Chi-Square test, while smoking degree was analyzed using the Spearmen Rank correlation test. Statistical significance was set at p0,05. Functional dyspepsia was identified in 68 respondents (73,9%). Coffee consumption was significantly associated with functional (p=0,000; PR=7,43; CI 95%: 2,76-19,9). Smoking degree also showed a significant positive correlation with use and functional dyspepsia (P=0,001; r=0,354). However, No. significant association was found between OAINS use and functional dyspepsia (p=0,411; PR=1,49; CI 95%: 0,40-5,50). Coffee consumption and smoking degree are significantly associated with functional dyspepsia, whereas OAINS use does not show a statistically significant association with functional dyspepsia. Keywords: Functional Dyspepsia, Coffee Consumption, Nsaids, Smoking. ABSTRAK Dispepsia merupakan gangguan pencernaan yang sering dijumpai di klinis dan ditandai oleh gejala nyeri epigastrium, kembung, cepat kenyang, rasa penuh di perut, sering bersendawa serta mual dan muntah.DI Nusa Tenggara Barat (NTB), pada tahun 2021 dispepsia menjadi penyakit keenam yang paling sering dijumpai di puskesmas, dengan jumlah kasus mencapai 36.004. Angka tersebut mengalami peningkatan pada tahun 2022, yakni menjadi 56.098. Berbagai faktor diduga berperan dalam terjadinya dispepsia fungsional, antara lain konsumsi kopi, penggunaan OAINS, dan kebiasaan merokok, namun hasil penelitian sebelumnya masih menunjukkan adanya perbedaan temuan.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsumsi kopi, riwayat penggunaan OAINS, dan derajat merokok dengan kejadian dispepsia fungsioal di Puskesmas Selaparang. Metode penelitian ini kuantitatif dengan desain analitik observasional. merupakan analitik observasional dengan rancangan cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan tehnik Consecutive Sampling pada pasien yang berkunjung ke Puskesmas Selaparang, dengan jumlah sampel sebanyak 92 orang. Analisis data bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk variabel konsumsi kopi dan riwayat penggunaan OAINS, serta uji Spearman Rank untuk variabel derajat merokok dengan tingkat signifikasi 0,05Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden sebanyak 68 orang mengalami dispepsia fungsional (73,9%). Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi kopi dengan dispepsia fungsional (p=0,000; PR=7,43; CI 95%: 2,76-19,9). Derajat merokok juga menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian dispepsia fungsional (p=0,001; r=0,354). Sebaliknya, riwayat penggunaan OAINS tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik dengan kejadian dispepsia fungsional (p=0,411; PR=1,49; CI 95%: 0,40-5,50). Kesimpulan dari penelitian ini adalah konsumsi kopi dan derajat merokok berhubungan signifikan dengan kejadian dispepsia fungsional, sedangkan penggunaan OAINS tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kejadian dispepsia fungsional secara statistik. Kata Kunci: Dispepsia Fungsional, Konsumsi Kopi, OAINS, Merokok.