ABSTRAK Pelecehan seksual di kampus merupakan persoalan serius yang berdampak pada kenyamanan dan semangat belajar mahasiswa. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk pelecehan seksual, menganalis praktik budaya Hegemoni maskulinitas, dampaknya, serta mengevaluasi peran kampus dalam mengatasinya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan desain studi kasus. Hasil penelitian ini menemukan bahwa macam-macam dan bentuk pelecehan yang terjadi meliputi permainan kekuasaan, pelecehan tertutup, dan berbentuk fisik, lisan, dan isyarat. Mayoritas responden memahami pelecehan sebagai tindakan fisik, verbal, dan non-verbal, dan sebagian besar pernah mengalaminya langsung. Pelaku umumnya adalah dosen atau senior yang menyalahgunakan otoritas, didorong oleh praktik Hegemoni Maskulinitas. Dampak psikologis korban meliputi stres, ketakutan, hingga trauma, yang mengganggu proses belajar. Budaya diam dan normalisasi candaan seksual turut memperkuat relasi kuasa. Meskipun kampus memiliki mekanisme pelaporan, banyak korban enggan melapor karena takut, malu, dan adanya stigma. Kesimpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa pelecehan seksual merupakan bagian dari struktur sosial yang tidak setara, dan penanganannya membutuhkan reformasi struktural dan kultural. Oleh karena itu, disarankan agar kampus memperkuat sosialisasi lembaga PPKS, menyediakan layanan pelaporan yang ramah korban, serta mengintegrasikan pendidikan gender guna menciptakan ruang belajar yang aman dan bebas kekerasan.
Copyrights © 2026