Tulisan ini menganalisis subalternitas Batsyeba berdasarkan pandangan Gayatri C. Spivak terhadap teks 2 Samuel 11:1-27. Bastyeba merupakan kaum yang lemah tidak diperhitungkan berdasarkan budaya patriakal sehingga dalam narasi, kehadirannya hanya melalui tindakan. Tujuan utama dari penulisan ini adalah menganalisis subalternitas Batsyeba melalui ungkapan “aku mengandung” dan ratapannya setelah kematian Uria. Pendekatan naratif-kualitatif digunakan untuk melihat posisi Batsyeba dengan menggunakan berbagai literatur yang mendukung pengungkapan subaltern Batsyeba. Berdasarkan analisis teks, konteks sosial budaya dan subaltern Spivak menunjukkan Batsyeba adalah subaltern yang memanfaatkan celah dalam kekuasan Daud, jika dibandingkan dengan tradisi suttee yang digunakan Spivak maka Batsyeba merupakan kaum lemah yang berhasil membebaskan diri dari kolonialisme. Selama ini posisi Batsyeba tidak mendapat ruang selain dalam pembahasan feminis tetapi melalui pendekatan poskolonial Batsyeba berhasil melawan dominasi Daud.
Copyrights © 2026