Penelitian ini didasarkan pada tingginya kejadian stres dan gangguan tidur pada mahasiswa terutama menjelang ujian kompetensi seperti OSCE, di mana data WHO (2024) menunjukan bahwa stress dapat menurunkan kemampuan bekerja, dan riskesdes 2018 melaporkan bahwa Sulawesi Tengah memiliki prevalensi stres tertinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stres dengan kejadian insomnia pada mahasiswa keperawatan tingkat III dalam menghadapi Objective Structured Clinical Examination (OSCE) di Universitas Widya Nusantara.Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian Adalah 211 mahasiswa keperawatan tingkat III, dan sebanyak 68 mahasiswa dipilih sebagai sampel menggunakan teknik purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar mahasiswa mengalami stres sedang sebanyak (61,8%), dan insomnia sedang (61,8%). Uji korelasi gamma menunjukan nilai koefisien 0,627 dengan p-value 0,003 sehingga disimpulkan terdapat hubungan signifikan antara stres dan insomnia, dengan arah hubungan positif dan kekuatan cukup kuat, semakin tinggi Tingkat stres, semakin berat insomnia yang dialami mahasiswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa stres berperan penting dalam memengaruhi kualitas tidur mahasiswa menjelang ujian OSCE. Institusi pendidikan disarankan menyediakan dukungan psikologis dan akademik melalui konseling, pelatihan manajemen stres, atau seminar kesehatan mental, sementara penelitian selanjutnya diharapkan melibatkan sampel lebih luas dan memasukan variabel tambahan seperti dukungan sosial, kebiasaan tidur, dan tingkat kecemasan.
Copyrights © 2026