Indonesia memiliki cadangan aspal alam yang cukup banyak di pulau Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara. Aspal ini dikenal dengan Asbuton. Asbuton dapat dijadikan suatu bahan tambah yang dapat mengurangi kebutuhan aspal minyak suatu campuran dan sekaligus dapat meningkatkan performa campuran aspal. Penelitian ini bertujuan mengetahui seberapa besar nilai karakteristik Marshall pada pencampuran aspal alam dan buatan dengan perbandingan penggunaan buton granular aspal dengan fly ash dan portland cement. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan percobaan untuk mendapatkan hasil, pemanfaatan BGA sebagai pencampuran dengan variasi kadar granular 10%, 20%, 30%, 40%, dan 50% terhadap total campuran Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan granular dengan semen portland memiliki hasil terbaik dibanding dengan campuran fly ash. Semakin banyak granular yang digunakan, menyebabkan nilai stabilitas semakin meningkat. Pada kadar BGA 10% nilai stabilitas yang didapatkan sebesar 593,63 Kg, pada saat kadar buton granular aspal ditambahkan sampai pada kadar 50%, nilai stabilitas meningkat menjadi 2614,59 Kg. Nilai stabilitas mengalami peningkatan seiring pertambahan kadar BGA. Dengan peningkatan rata-rata sebesar 2047,83 kg. Kelelehan flow campuran mengalami peningkatan seiring pertambahan kadar buton granular aspal. Pada saat campuran menggunakan variasi bga sebesar 10 %, memiliki nilai flow sebesar 3,17 setelah divariasikan dengan kadar buton granular aspal sampai pada 50%, nilai flow meningkat menjadi 3,60 dengan rata- rata peningkatansebesar 3,36.Kata kunci: Campuran Beton aspal, Buton Granular Aspal, Karakteristik Marshall, portland cement
Copyrights © 2025