Perubahan lanskap pendidikan saat ini menuntut adaptasi kurikulum yang mampu menjawab karakteristik unik lintas generasi, terutama dalam konteks pendidikan agama. Tulisan ini membahas Fenomena penurunan keterikatan agama formal pada Generasi Z dan Generasi Alfa dipicu oleh akses informasi digital, skeptisismep terhadap dogma tradisional, serta ketidakcocokan nilai-nilai progresif. Generasi Z cenderung bersifat praktis, rasional, menyukai "agama digital" melalui media sosial, serta membutuhkan model pembelajaran yang interaktif, mobile-first, berbasis gamifikasi, dan berfokus pada kolaborasi teman sebaya. Generasi Alfa dicirikan oleh imersi teknologi, ketergantungan pada algoritma yang sangat dipersonalisasi, dan kesadaran tinggi terhadap isu global; mereka menunjukkan keterbukaan spiritual namun skeptis terhadap struktur agama tradisional. Keberhasilan pendidikan agama bagi kedua generasi ini sangat bergantung pada kemampuan pendidik untuk mengintegrasikan teknologi AI, pendekatan pembelajaran mikro, serta materi yang relevan dengan tantangan dunia nyata dan kebutuhan emosional mereka.
Copyrights © 2026