Museum memiliki peran penting dalam pelestarian budaya sekaligus sebagai ruang edukasi publik yang partisipatif. Namun, program edukasi di museum masih didominasi pendekatan konvensional seperti batik, yang belum sepenuhnya menjawab kebutuhan pembelajaran generasi muda yang lebih interaktif dan kreatif. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas edukator Museum Sonobudoyo Yogyakarta melalui pelatihan teknik pewarnaan marbling sebagai alternatif inovatif dalam program edukasi seni tekstil. Metode yang digunakan adalah pelatihan berbasis experiential learning dengan pendekatan demonstrasi dan praktik langsung. Kegiatan diikuti oleh 25 staf edukator museum dan dilaksanakan dalam empat tahap, yakni persiapan, pelaksanaan, pendampingan, dan evaluasi. Evaluasi dilakukan berdasarkan Model Kirkpatrick Level 1 dan 2, mencakup pengukuran reaksi peserta melalui angket serta hasil belajar melalui pre-test dan post-test. Hasil menunjukkan peningkatan rata-rata skor dari 55,6 menjadi 88,32 (kenaikan 32,72 poin), disertai penurunan variasi skor yang mengindikasikan penyetaraan kompetensi antar peserta. Selain itu, tingkat kepuasan peserta terhadap materi, metode, dan fasilitator berada pada kategori sangat baik dengan skor rata-rata di atas 4,6 (skala 1–5). Peserta juga berhasil menghasilkan karya marbling yang layak untuk diintegrasikan dalam program edukasi museum. Kegiatan ini membuktikan bahwa teknik marbling memiliki potensi sebagai pendekatan edukatif yang aplikatif, estetis, dan relevan dengan minat generasi muda. Implikasi kegiatan ini menunjukkan pentingnya diversifikasi metode edukasi berbasis seni di museum serta penguatan kapasitas edukator dalam menghadirkan pengalaman belajar yang inovatif dan partisipatif.
Copyrights © 2026