Kota Bandung yang dijuluki "Paris van Java," memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang tercermin melalui bangunan kolonialnya. Salah satu bangunan yang menonjol adalah Gedung De Majestic, ikon arsitektur yang berada di pusat kota. Fasad bangunan ini, dengan ornamen dan detailnya yang khas, tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika tetapi juga menyimpan pesan filosofis tentang sejarah, budaya, dan cita-cita masyarakat kolonial. Sebagai representasi visual yang signifikan, fasad mencerminkan nilai-nilai, kepercayaan, dan aspirasi masyarakat pada masa pembangunannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolik dan filosofis yang terkandung dalam elemen-elemen visual fasad Gedung De Majestic, seperti material, bentuk, ornamen, dan proporsi. Selain itu, perkembangan arsitektur kolonial di Bandung dipengaruhi oleh dinamika sosial dan politik yang kompleks, di mana gaya kolonial tidak hanya menjadi refleksi estetika, tetapi juga manifestasi kekuasaan dan dominasi budaya Barat. Studi ini juga mengeksplorasi adaptasi fasad De Majestic dalam menghadapi perubahan zaman serta relevansinya dalam konteks sosial dan budaya saat ini. Melalui kajian terhadap interaksi antara arsitektur dan masyarakat, fasad De Majestic mencerminkan aspirasi estetis kolektif yang berakar pada sejarah. Penelitian ini diharapkan berkontribusi pada pelestarian warisan budaya, sehingga generasi mendatang dapat mengenal dan menghargai nilai-nilai arsitektur kolonial yang terdapat pada Gedung De Majestic. Metodologi penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif, meliputi studi literatur, observasi, dan analisis visual. Hasil kajian ini menegaskan peran arsitektur sebagai media komunikasi budaya, yang menunjukkan identitas unik dari warisan kolonial Bandung dan dampak interaksi budaya Barat dan Timur pada awal abad ke-20.
Copyrights © 2024