Pembangunan rendah karbon semakin diadopsi untuk menyelaraskan mitigasi emisi gas rumah kaca (GRK) dengan tujuan pembangunan daerah. Penelitian ini mengevaluasi capaian penurunan emisi dari program pembangunan rendah karbon di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, serta mengidentifikasi kendala implementasi yang memengaruhi efektivitas program. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif berdasarkan rekap kegiatan aksi mitigasi dan estimasi potensi penurunan emisi (ton CO₂eq), yang dilengkapi interpretasi kualitatif atas hambatan teknis, pendanaan, dan kelembagaan dari dokumen pelaksanaan program. Hasil menunjukkan aksi terkonsentrasi pada sektor transportasi, pertanian, dan inisiatif berbasis ekosistem pesisir, dengan total potensi penurunan emisi kumulatif 7.801-ton CO₂eq. Kontributor terbesar berasal dari pendataan kendaraan bermotor wajib uji (5.692,32-ton CO₂eq), diikuti aksi pertanian termasuk pengadaan benih padi (1.905,10-ton CO₂eq) serta kegiatan terkait pupuk organik. Penanaman mangrove memberikan kontribusi lebih kecil namun konsisten (60,72-ton CO₂eq per kegiatan yang dilaporkan). Sebaliknya, capaian sektor limbah belum terukur karena keterbatasan pengukuran dan pelaporan. Penguatan kapasitas MRV, perluasan pembiayaan kolaboratif, dan peningkatan koordinasi lintas perangkat daerah direkomendasikan untuk meningkatkan efektivitas dan skalabilitas, sekaligus mendukung SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Copyrights © 2026