Internalisasi karakter berbasis tradisi keagamaan merupakan instrumen krusial dalam membangun atmosfer sekolah yang mendukung pertumbuhan nilai, sikap, dan etika siswa. Mengingat institusi pendidikan negeri pada umumnya memiliki peserta didik dengan latar belakang yang heterogen, penerapan budaya religius tersebut harus dijalankan melalui strategi yang sistematis dan inklusif. Penelitian ini mendeskripsikan internalisasi budaya sekolah berbasis nilai religius, mengkaji implementasi program salat dhuha sebagai budaya sekolah, serta mengkaji dampaknya terhadap pembentukan karakter peserta didik di SMPN 4 Parepare. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara serta didukung oleh observasi dan dokumentasi kegiatan sekolah. Proses pengolahan data dalam studi ini menerapkan model interaktif meliputi fase reduksi, paparan data, hingga perumusan simpulan. Temuan riset mengindikasikan bahwa konstruksi budaya religius di SMPN 4 Parepare bertumpu pada tiga agenda inti: salat dhuha, salat zuhur berjamaah, dan penguatan literasi Al-Qur’an. Keberhasilan program tersebut turut ditopang oleh tradisi internalisasi nilai kedisiplinan dan perilaku sosial yang baik di kalangan siswa. Di antara program tersebut, salat dhuha menjadi kegiatan yang paling dominan karena dilaksanakan setiap hari dan melibatkan hampir seluruh peserta didik. Hasil wawancara menunjukkan, 5 dari 6 siswa merasa lebih tenang dan fokus setelah mengikuti salat dhuha, sementara 3 dari 4 guru menyatakan terjadi peningkatan kedisiplinan dan kesiapan belajar siswa. Keberhasilan program ini didukung oleh integritas kepala sekolah, peran guru sebagai figur teladan, serta kolaborasi dengan orang tua siswa. Penelitian ini menunjukkan bahwa budaya religius dapat diterapkan secara inklusif di sekolah negeri sebagai strategi pembentukan karakter peserta didik.
Copyrights © 2026