Kraniotomi merupakan prosedur bedah saraf mayor yang dapat memengaruhi regulasi suhu tubuh akibat respons inflamasi, efek anestesi, dan perubahan fisiologis lainnya. Perubahan suhu pascaoperasi menjadi indikator penting untuk mendeteksi komplikasi awal, seperti infeksi maupun gangguan termoregulasi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perubahan suhu tubuh pasien setelah kraniotomi. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Sampel sebanyak 70 pasien pasca kraniotomi yang menjalani anestesi umum di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto dipilih secara purposive sesuai kriteria inklusi. Pengukuran suhu dilakukan sebelum dan setelah anestesi, kemudian dianalisis secara deskriptif melalui distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berada pada kelompok usia dewasa 31 orang (44,3%), dengan IMT normal 47 orang (67,1%), perdarahan kelas I 51 orang (72,9%), lama operasi 30 menit–2 jam sebanyak 26 orang (37,1%), dan mayoritas berjenis kelamin perempuan 41 orang (58,6%). Diagnosis terbanyak adalah tumor otak 42 orang (60%). Sebanyak 49 pasien (70%) mengalami hipotermia ringan dengan suhu 32,0°C–36°C. Secara keseluruhan, pasien pasca kraniotomi cenderung mengalami penurunan suhu tubuh pada kategori hipotermia ringan. Oleh karena itu, pemantauan suhu tubuh secara berkala sangat diperlukan untuk mencegah komplikasi yang mungkin timbul.
Copyrights © 2026