Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme internalisasi prinsip moderasi beragama dalam ruang sosiokultural masyarakat di tengah fenomena polarisasi agama dan disrupsi digital. Melalui tinjauan literatur, penelitian ini mengidentifikasi celah dalam studi terdahulu yang cenderung bersifat top-down dan teoritis, serta kurang mengeksplorasi praktik organik di tingkat akar rumput. Penelitian ini menawarkan perspektif baru mengenai adaptasi nilai-nilai moderasi—seperti tawasut, i'tidal, dan tasamuh—menjadi praktik sosial yang resilien terhadap narasi ekstremisme di media sosial. Argumen utama yang diajukan adalah bahwa keberhasilan moderasi beragama sangat bergantung pada sinergi antara literasi digital keagamaan dan penguatan nilai-nilai kearifan lokal. Hasil analisis menunjukkan bahwa integrasi prinsip moderasi dengan pemahaman budaya lokal yang inklusif dapat meningkatkan daya tahan masyarakat terhadap infiltrasi paham radikal secara signifikan. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model moderasi beragama yang lebih partisipatif dan berbasis komunitas.
Copyrights © 2026