Artikel kontekstual ini mengeksplorasi pergeseran transformatif dalam teknik presentasi Hubungan Masyarakat (PR), menelusuri evolusinya dari propaganda satu arah tradisional hingga era kontemporer Kecerdasan Buatan (AI). Studi ini mengidentifikasi paradigma yang berkembang pesat yang disebut “Persuasi Algoritmik,” di mana prinsip-prinsip retorika klasik yang disinkronkan dengan analitik prediktif dan AI generatif untuk membangun narasi yang sangat personal dan adaptif. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, penelitian ini menganalisis bagaimana siklus presentasi yang diperbesar AI—yang mencakup pembuatan profil audiens otomatis, dasbor interaktif waktu nyata, dan umpan balik pasca-presentasi yang dipersonalisasi—merekonstruksi otoritas organisasi dalam lanskap digital yang terfragmentasi. Analisis kasus dalam sektor teknologi Indonesia menunjukkan bahwa meskipun AI meningkatkan efisiensi teknis dan integritas data visual, AI juga memicu "paradoks otentisitas" yang membutuhkan model "manusia dalam lingkaran" untuk menjaga perusahaan dan kebangkitan jiwa. Temuan menekankan bahwa praktisi PR modern harus beralih dari produsen konten menjadi kurator etis yang mengelola sinergi antara kecepatan pemrosesan mesin dan intuisi manusia. Pada akhirnya, penelitian ini menyediakan kerangka strategi kerja untuk mengadopsi AI secara etis, menegaskan bahwa akuntabilitas algoritma dan transmisi transparansi sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik. Studi ini berkontribusi pada literatur dengan menjembatani kesenjangan antara Teori Keunggulan dan realitas strategi komunikasi otomatis.
Copyrights © 2026