Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena pergeseran paradigma keprotokolan pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) strategis yang dituntut untuk menjaga marwah negara di tengah arus digitalisasi yang masif. PT Pertamina (Persero), sebagai representasi kedaulatan energi nasional, menghadapi tantangan dalam menyinkronkan regulasi protokol yang kaku dengan dinamika komunikasi digital yang instan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi konseptual melalui analisis literatur sistematis dan tinjauan dokumen korporat untuk merumuskan model komunikasi yang adaptif. Hasil penelitian memperkenalkan model "Protokol Adaptif" yang bertumpu pada tiga pilar utama: Digital Etiquette, Virtual Presence, dan Hybrid Ceremonial. Implementasi model ini terbukti mampu meminimalisir deviasi operasional melalui sistem koordinasi real-time dan meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan tingkat tinggi. Kesimpulan dari studi ini menegaskan bahwa reposisi fungsi keprotokolan sebagai aset strategis Government Public Relations (GPR) efektif dalam memitigasi risiko politik dan memperkuat legitimasi institusional. Sinergi antara tradisi birokrasi yang formal dan inovasi teknologi digital menjadi kunci bagi BUMN strategis untuk mempertahankan wibawa institusi di ruang siber. Model ini direkomendasikan sebagai standar operasional baru bagi perusahaan negara lainnya dalam menavigasi kompleksitas diplomasi korporat di era keterbukaan informasi.
Copyrights © 2026