Berangkat dari asumsi bahwa makna dalam teks dramatik tidak pernah berdiri secara literal, penelitian ini menelaah bagaimana deiksis bekerja sebagai mekanisme pembentuk makna dalam naskah drama Kereta Kencana karya W. S. Rendra. Kajian ini menggunakan pendekatan pragmatik dengan metode deskriptif kualitatif melalui teknik simak dan catat terhadap tuturan tokoh. Analisis diarahkan tidak hanya pada identifikasi bentuk deiksis persona, waktu, dan tempat, tetapi juga pada cara unsur-unsur tersebut mengonstruksi realitas dramatik. Hasil analisis memperlihatkan bahwa deiksis persona berfungsi sebagai instrumen pembingkaian relasi yang semu, di mana pronomina menciptakan kesan kedekatan yang justru menyembunyikan keterasingan tokoh. Pada saat yang sama, deiksis waktu menunjukkan ketidakteraturan temporal yang mengaburkan batas antara masa lalu, kini, dan yang akan datang, sehingga menghadirkan pengalaman waktu yang bersifat psikologis, bukan kronologis. Adapun deiksis tempat mengoperasikan dualitas ruang, yakni antara ruang konkret yang terbatas dan ruang imajinatif yang meluas, yang secara simbolik merepresentasikan keterputusan tokoh dari dunia sosial. Dengan demikian, deiksis dalam teks ini tidak sekadar berfungsi sebagai penunjuk referensial, melainkan sebagai strategi semiotik yang membangun absurditas, ironi, dan kritik terhadap kondisi eksistensial manusia modern. Temuan ini menegaskan pentingnya analisis deiksis secara interpretatif dalam kajian pragmatik sastra serta membuka peluang pemanfaatannya dalam pengembangan pembelajaran berbasis pemaknaan kritis.
Copyrights © 2026