Penelitian ini menganalisis dominasi metode klasik dalam pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah Ibtidaiyah Terpadu (MIT) Al-Bariyyah di tengah implementasi Kurikulum Merdeka. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi kasus pada seorang guru bahasa Arab disana, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Arab di MIT Al-Bariyyah masih sangat mengandalkan *Grammar Translation Method* (GTM), dengan fokus pada penerjemahan literal, hafalan kosakata, dan tata bahasa, serta minimnya perhatian pada komunikasi lisan. Meskipun guru menunjukkan inisiatif adaptasi seperti metode nyanyian dan sesekali penggunaan proyektor, upaya ini terhambat oleh keterbatasan fasilitas dan kurangnya literasi teknologi. Pemahaman guru terhadap konsep Kurikulum Merdeka, seperti pembelajaran berdiferensiasi, masih belum optimal karena kurangnya pendampingan teknis dan pelatihan yang kontekstual. Pilihan guru untuk mempertahankan metode klasik dipandang sebagai respons rasional terhadap keterbatasan struktural, bukan penolakan terhadap inovasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan implementasi kurikulum baru sangat bergantung pada dukungan sistemik yang berkelanjutan, pelatihan praktis, dan infrastruktur yang memadai, agar transformasi pedagogis dapat terwujud secara substansial di lapangan.
Copyrights © 2026