Ritual Adus Nggawan masih dipertahankan dan dilaksanakan sampai saat ini secara turun temurun oleh masyarakat Desa Kebomlati. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau ritual Adus Nggawan bagi bayi yang berusia tujuh bulan sampai dua tahun di sungai Bengawan Solo dari leksikon simbolis yang ditemukan. Metode penelitian yang digunakan kualitatif deskriptif dengan teori antropolinguistik. Data penelitian diperoleh dari informan masyarakat desa Kebomlati, Tuban yang melaksanakan ritual Adus Nggawan. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara secara terstruktur, dokumentasi, observasi, dan studi kepustakaan. Analisis data dengan tahapan mencatat data, memilah data, mengklasifikasikan kemudian menganalisis data dan melakukan penarikan kesimpulan. Untuk pengecekan keabsahan temuan penelitian digunakan teknik triangulasi sumber yaitu mencari informasi data menggunakan lebih dari satu sumber informasi. Hasil penelitian ini menemukan 1) adanya makna kebudayaan yang muncul dari tiga belas leksikon sebagai identitas budaya ritual Adus Nggawan 2) adanya mitos dan kepercayaan apabila tidak melaksanakan ritual Adus Nggawan ada hal buruk menimpa. 3) ritual Adus Nggawan memuat nilai-nilai lokal dan simbolisme dan berpotensi menjadi salah satu bentuk mitigasi bencana berbasis budaya yang tergambar dalam pengetahuan lokal (local knowledge) berupa pemahaman nilai sosial masyarakat dan pemahaman nilai Spiritualitas dan perlindungan. Kebijakan lokal (local wisdom) berupa pemahaman akan pentingnya melaksanakan ritual yang timbul dari kesadaran kolektif masyarakat dan kecerdasan lokal (local genius) sebagai bentuk mitigasi berbasis budaya adanya himbauan agar tidak mendekati sungai serta pengenalan ritual sejak dini yang berguna untuk keselamatan sehingga ritual Adus Nggawan mengingatkan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan sang pencipta
Copyrights © 2025