Permasalahan rendahnya kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran Sosiologi pada Fase F di SMAN 2 Painan terlihat dari dominasi pembelajaran konvensional dan rendahnya capaian indikator berpikir tingkat tinggi. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi model Problem Based Learning (PBL) berbantuan E-LKPD digital yang disusun berbasis indikator FRISCO (Focus, Reason, Inference, Situation, Clarity, Overview) dalam konteks Kurikulum Merdeka untuk mengoptimalkan pengembangan kemampuan berpikir kritis. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penerapan PBL berbantuan E-LKPD terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik pada mata pelajaran Sosiologi. Metode yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain Nonequivalent Control Group Design tipe pretest–posttest, melibatkan seluruh peserta didik kelas XI Fase F (N = 68) yang diambil dengan teknik total sampling, dengan XI F11 sebagai kelas eksperimen dan XI F12 sebagai kelas kontrol. Data dikumpulkan melalui tes esay kemampuan berpikir kritis berbasis FRISCO yang telah divalidasi secara isi dan dinyatakan reliabel (Cronbach’s Alpha > 0,70), kemudian dianalisis secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji t setelah memenuhi prasyarat normalitas dan homogenitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan berpikir kritis peserta didik di kelas eksperimen meningkat dari kategori lebih rendah menuju kategori lebih tinggi dan secara signifikan lebih baik dibandingkan kelas kontrol (p < 0,05) pada seluruh indikator FRISCO. Disimpulkan bahwa model PBL berbantuan E-LKPD efektif meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran Sosiologi dan dapat direkomendasikan sebagai strategi pembelajaran yang sejalan dengan tuntutan Kurikulum Merdeka.
Copyrights © 2026