Tindak tutur ekspresif dalam karya sastra sering kali menjadi cermin dari intensitas konflik psikologis dan dinamika kekuasaan antar-tokoh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manifestasi dan fungsi tindak tutur ekspresif negatif, khususnya menyalahkan, mengkritik, dan mengeluh, dalam novel Aku Tak Membenci Hujan karya Sri Puji Hartini. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kerangka analisis pragmatik, data dikumpulkan melalui teknik studi dokumenter dan dikodifikasi berdasarkan fungsi ilokusinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak tutur menyalahkan didominasi oleh strategi dehumanisasi melalui metafora peyoratif untuk menghancurkan harga diri lawan tutur. Tindak tutur mengkritik ditemukan beroperasi melalui mekanisme sarkasme dan eksklusi sosial yang bersifat pasif-agresif. Sementara itu, tindak tutur mengeluh berfungsi sebagai gugatan eksistensial yang menuntut validasi atas pengabaian emosional. Secara kolektif, ketiga tindak tutur ini membentuk pola komunikasi toksik yang secara radikal melanggar prinsip kesantunan demi mencapai tujuan retoris dalam narasi. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan terhadap studi linguistik sastra dengan mengungkap bagaimana struktur bahasa digunakan sebagai instrumen navigasi trauma dan konflik dalam prosa Indonesia modern.
Copyrights © 2026