Di tengah ketegangan antara sains dan dogmatisme teologi tentang asal-usul manusia, Pierre Teilhard de Chardin hadir menawarkan kerangka pemikiran yang memandang evolusi bukan sebagai ancaman bagi iman, melainkan sebagai manifestasi penciptaan ilahi yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis dan hermeneutik filosofis untuk menguraikan bangunan pemikiran Theilhard terkait evolusi, mulai dari tahap kosmogenesis hingga Kristogenesis. Hasil analisis menunjukkan bahwa arsitektur teologi Teilhard digerakkan oleh "Hukum Kompleksitas-Kesadaran" yang berproses melalui tiga tahap utama penciptaan: kosmogenesis, biogenesis, dan noogenesis (munculnya kesadaran reflektif manusia yang membentuk noosfer). Seluruh lintasan makro evolusi ini diyakini mengerucut secara teleologis menuju satu pemusatan spiritual tunggal, yakni Titik Omega. Secara revolusioner, Teilhard mengidentifikasi Titik Omega ini sebagai sosok Yesus Kristus (Kristus Kosmik) yang mengubah narasi evolusi materi menjadi lintasan keselamatan kosmik (Kristogenesis). Paradigma ini berpotensi mampu mendamaikan evolusi dengan iman Kristen, serta memberikan relevansi ekologis dengan menempatkan manusia sebagai agen yang bertanggung jawab merawat alam semesta.
Copyrights © 2026