Hipertensi merupakan penyakit tidak menular kronis yang ditandai oleh peningkatan tekanan darah ≥140/90 mmHg dan menjadi salah satu penyebab utama kematian dini di dunia menurut WHO. Secara global, jumlah penderita mencapai sekitar 1,4 miliar pada tahun 2024 dan sebagian besar berasal dari negara berpendapatan rendah hingga menengah. Di Indonesia, hipertensi masih menjadi faktor risiko dominan penyebab kematian, sementara banyak kasus belum terdeteksi. Pengendalian hipertensi tidak hanya mengandalkan obat, tetapi juga membutuhkan pendekatan non-farmakologis berkelanjutan seperti body movement therapy. Studi kasus ini bertujuan menjelaskan penerapan senam hipertensi sebagai bentuk terapi gerak dalam membantu menurunkan tekanan darah dan memperbaiki perfusi perifer di komunitas. Metode penelitian menggunakan pendekatan asuhan keperawatan komunitas terhadap empat lansia perempuan dengan hipertensi disertai keluhan pusing, kesemutan, dan akral dingin. Intervensi dilakukan selama tiga hari berturut melalui edukasi kesehatan, pemantauan hemodinamik, perawatan sirkulasi, serta senam hipertensi selama 20-30 menit per hari. Hasil menunjukkan adanya penurunan tekanan darah secara bertahap, akral terasa hangat, capillary refill <3 detik, serta berkurangnya gejala. Senam hipertensi terbukti efektif untuk menurunkan tekanan darah, memperbaiki sirkulasi, dan meningkatkan pemahaman pasien mengenai pengelolaan hipertensi di tingkat komunitas.
Copyrights © 2026