Kajian ini menganalisis pengaruh keterbatasan ekonomi rumah tangga miskin di Sumatera Utara terhadap keberlanjutan pendidikan anak dengan menyoroti faktor ekonomi, sosial, dan akses pendidikan yang memengaruhi risiko putus sekolah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur sistematis terhadap tujuh artikel jurnal bereputasi yang relevan dengan isu kemiskinan dan pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa tekanan ekonomi keluarga menjadi faktor dominan dengan koefisien pengaruh sebesar 68,3% dalam menentukan keberlanjutan pendidikan anak. Data Susenas 2021 juga menunjukkan bahwa sekitar 76% anak berhenti sekolah disebabkan oleh faktor ekonomi, terutama ketidakmampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan pendidikan baik biaya langsung maupun biaya tidak langsung seperti transportasi, perlengkapan sekolah, dan kebutuhan pendukung lainnya. Selain itu, peningkatan angka kemiskinan di Sumatera Utara yang mencapai 9,14% akibat pandemi Covid-19 turut memperbesar kerentanan pendidikan anak dari keluarga miskin. Penelitian ini juga menemukan bahwa permasalahan pendidikan tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi finansial, tetapi juga oleh rendahnya persepsi orang tua terhadap pentingnya pendidikan, meningkatnya keterlibatan anak dalam aktivitas kerja untuk membantu ekonomi keluarga, serta keterbatasan akses fisik menuju sekolah terutama di wilayah terpencil. Setiap penambahan jam kerja anak diketahui meningkatkan risiko putus sekolah sebesar 1,178 kali. Selain itu, norma sosial di lingkungan masyarakat turut memengaruhi keputusan keluarga terkait kelanjutan pendidikan anak. Oleh karena itu, diperlukan intervensi kebijakan yang komprehensif melalui bantuan finansial yang lebih tepat sasaran, peningkatan literasi pendidikan orang tua, serta pemerataan akses dan kualitas pendidikan guna menekan angka putus sekolah dan meningkatkan keberlanjutan pendidikan anak di Sumatera Utara.
Copyrights © 2026