Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) di era postmodern menghadapi tantangan hyperreality dan simulacra, di mana batas antara kebenaran dan manipulasi informasi semakin kabur. Metode kisah konvensional yang cenderung dogmatis dan pasif dinilai tidak lagi memadai untuk membekali nalar kritis anak. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi narasi Hadits Abu Hurairah dan Setan (terkait Ayat Kursi) dari sekadar dogma teologis menjadi instrumen pedagogis literasi kritis. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan pisau analisis Hermeneutika Gadamerian (Fusion of Horizons) dan teori konstruktivisme sosial Vygotsky, penelitian ini membedah struktur dialektika dalam teks Sahih Al-Bukhari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisah ini menawarkan model pembelajaran inkuiri melalui tiga dimensi: (1) Dekonstruksi simulacra melalui paradoks "sumber jahat (Setan) yang membawa konten benar (Ayat Kursi)" untuk melatih anak memisahkan pesan dari pembawa pesan; (2) Penerapan scaffolding dan pembelajaran enaktif (Bruner) melalui proses investigasi berulang selama tiga malam; dan (3) Transformasi metode dari storytelling pasif menjadi role-playing investigatif untuk membangun habitus tabayyun (validasi). Implikasi studi ini merekomendasikan pergeseran peran guru dari penceramah menjadi fasilitator otoritatif yang memvalidasi temuan anak, sejalan dengan fungsi Nabi SAW dalam narasi hadits tersebut.
Copyrights © 2026