Perilaku merokok merupakan suatu kebiasaan di seluruh lapisan masyarakat baik usia muda, usia dewasa sampai pada lanjut usia. Studi GYTS (Global Youth Tobacco Survey) Indonesia tahun 2019 menemukan bahwa 4 dari 10 siswa Indonesia berusia 13-15 tahun pernah mencoba tembakau, sebanyak 19,2% pelajar menggunakan produk tembakau dan 11,5 pelajar menggunakan rokok elektronik. Hal ini dapat terjadi karena mudahnya akses dan ketersediaan rokok di lingkungan pelajar menjadikan pelajar dengan mudah membeli dan mengkonsumsi rokok dimana saja. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara pembelian rokok eceran dengan perilaku merokok mahasiswa seperti frekuensi dan intensitas. Merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan potong lintang. Sampel dalam penelitian berjumlah 180 pelajar sekolah menengah kejuruan. Pengumpulana data primer melalui wawancara langsung menggunakan kuesioner. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pembelian rokok eceran dengan frekuensi dan intensitas merokok pada pelajar Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Jayapura. Hal tersebut bisa dilihat dari nilai p-value masing-masing yakni 0.365 dan 0.168< 0,05. Temuan penelitian ini merekomendasikan kepada pihak sekolah agar pelarangan penjualan rokok batangan, penguatan pengawasan terhadap pedagang rokok, serta integrasi kebijakan pengendalian tembakau dengan perlindungan anak sebagai langkah strategis untuk menurunkan prevalensi merokok remaja di Indonesia, juga intervensi pengendalian tembakau berbasis kurikulum sekolah.
Copyrights © 2026