Fenomena pergeseran istilah dari Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) ke neurodivergent mencerminkan perubahan paradigma pendidikan inklusif di Indonesia. Istilah ABK masih dominan digunakan karena fungsinya yang administratif, namun berakar pada paradigma medis yang cenderung menimbulkan stigma. Sebaliknya, neurodivergent menawarkan perspektif humanis dengan menekankan keragaman neurologis sebagai bagian dari variasi alami manusia. Penelitian ini bertujuan menelusuri perkembangan wacana pergeseran terminologi tersebut dalam literatur lima tahun terakhir serta implikasinya terhadap pendidikan inklusif. Metode yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa meski istilah ABK masih dominan, wacana neurodivergent mulai diadopsi dan berimplikasi positif pada praktik inklusif berbasis kekuatan. Namun, penerapannya masih terkendala minimnya pemahaman masyarakat, regulasi resmi, dan kuatnya dominasi istilah ABK. Oleh karena itu, adopsi istilah neurodivergent perlu dilakukan secara bertahap melalui sosialisasi, pelatihan guru, dan penguatan literasi publik.
Copyrights © 2026