Penelitian vitalitas bahasa di dunia, termasuk di Indonesia sudah banyak dilakukan. Namun, di Sulawesi Tengah bahasa-bahasa yang dikaji vitalitasnya masih sebagian kecil. Penelitian ini menelaah permasalahan tentang bagaimanakah status vitalitas bahasa Pamona di Kabupaten Poso. Pengumpulan data menggunakan teknik pengisian kuesioner, pengamatan, perekaman, pencatatan, wawancara mendalam dan terstruktur, serta penelusuran dokumen. Data kuantitatif diolah menggunakan Program Excel dan SPSS. Status vitalitas bahasa ditentukan melalui rerata indeks indikator penutur, kontak bahasa, bilingualisme, posisi dominan masyarakat penutur, ranah penggunaan bahasa, sikap bahasa, regulasi, pembelajaran, dokumentasi, dan tantangan baru dikorelasikan dengan karakteristik responden serta dikaitkan dengan lima tingkatan vitalitas (berstatus kritis, terancam punah, mengalami kemunduran, rentan, dan aman). Rerata indeks itu dihubungkan dengan rasio penutur, nilai dokumentasi bahasa, dan data kualitatif. Penelitian ini menemukan bahwa nilai indeks terendah terdapat pada indikator kontak bahasa, yakni 0,13 (berstatus kritis), regulasi 0,36 (terancam punah), dan bilingualisme 0,52 (mengalami kemunduran), sedangkan nilai indeks tertinggi terdapat pada indikator posisi dominan, yaitu 0,97 (aman) diikuti pembelajaran 0,86 (aman), sikap bahasa 0,82 (aman), ranah penggunaan bahasa 0,65 (rentan), dan tantangan baru 0,61 (rentan). Namun, rerata indeks keseluruhan indikator itu sebesar 0,61. Angka indeks itu menunjukkan bahwa vitalitas bahasa Pamona di Kabupaten Poso berada pada kategori rentan, tetapi mendekati mengalami kemunduran. Hal itu didukung kualitas dan jenis dokumentasi bahasa Pamona. Etnik Pamona mayoritas dwibahasawan. Namun, dalam ranah keluarga, keagamaan, transaksi (jual-beli), dan pendidikan (kelas 1—3 SD) bahasa Pamona masih digunakan.
Copyrights © 2021