Pendidikan di era modern mengalami pergeseran yang signifikan akibat perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang pesat. Pembelajaran tidak lagi terbatas pada transfer pengetahuan, tetapi menuntut pengembangan berpikir kritis, kemampuan mengambil keputusan, dan pertumbuhan manusia secara holistik. Namun, banyak sekolah masih menerapkan pendekatan yang berpusat pada guru dan pasif yang tidak selaras dengan kebutuhan peserta didik. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan konseptual antara praktik pendidikan dan landasan filosofis yang mendukung pembelajaran berbasis pengalaman, demokratis, dan berpusat pada siswa. Untuk menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi filosofi progresivisme John Dewey dan mengkaji implikasinya terhadap pengembangan program bimbingan dan konseling di sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif kepustakaan. Data dikumpulkan dari buku, artikel, dan dokumen penelitian yang relevan. Proses analisis data meliputi pemetaan sumber, reduksi, analisis isi, interpretasi konseptual, dan sintesis. Penelitian ini dilakukan dalam waktu kurang lebih tiga bulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa filosofi Dewey selaras dengan peran ideal bimbingan dan konseling sebagai layanan yang bersifat perkembangan, preventif, dan fasilitatif. Pandangan Dewey mendukung peran konselor sebagai fasilitator pembelajaran, mendorong bimbingan berdasarkan pengalaman, dan memperkuat keterlibatan demokratis dalam program konseling. Penelitian ini berkontribusi secara teoretis dengan menawarkan kerangka kerja konseptual untuk layanan konseling berbasis progresif dan secara praktis dengan mengarahkan sekolah untuk mengadopsi model yang lebih humanis, partisipatif, dan berbasis pengalaman. Penelitian selanjutnya direkomendasikan untuk mengeksplorasi implementasi dan evaluasi berbasis lapangan.
Copyrights © 2025