cover
Contact Name
Rosada
Contact Email
rosada@aapbk.org
Phone
+6285312898866
Journal Mail Official
hanajournal66@gmail.com
Editorial Address
Bumi Mutiara Serang, Cluster Symphony, Blok C2 No.18 Serang - Banten - Indonesia 42122
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
HANA: Humanities and Academic Narratives in Education
ISSN : -     EISSN : 31237045     DOI : https://doi.org/10.63203/hana.
HANA: Humanities and Academic Narratives in Education is a scholarly journal that publishes research, conceptual studies, and academic reflections in the fields of humanities and education. HANA: Humanities and Academic Narratives in Education publishes scholarly works that explore the role of humanities in shaping educational identity, values, and practices. The journal focuses on studies in language, literature, culture, philosophy, history, art, human values, and their relevance in educational contexts. It also welcomes interdisciplinary perspectives connecting humanities with narrative, literacy, cultural representation, aesthetic learning, digital transformation, and humanistic approaches to education.
Articles 10 Documents
Tradisi Weton Dalam Menentukan Perkawinan Adat Jawa (Studi Di Desa Sepande Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo) Novian Fachri; Salsabilla Choirunnisa; Maulidina Sheila; Cici Yulia
HANA: Humanities and Academic Narratives in Education Vol. 1 No. 1 (2025): HANA: Humanities and Academic Narratives in Education
Publisher : Asosiasi Asesmen Pendidikan (AAP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63203/hana.v1i1.434

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis fenomena praktik hitung weton yang masih dilakukan di Desa Sepande dalam kaitannya dengan nilai-nilai bimbingan dan konseling perkawinan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian naratif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perhitungan weton untuk jodoh berasal dari penjumlahan hari neptu dan pasaran masing- masing calon pengantin. Namun, dalam masyarakat sekarang ini tidak se-ekstrim dulu, jika weton antara laki-laki dan perempuan tidak memiliki kecocokan, maka keduanya harus berpisah dan mencari pasangan lain. Perhitungan weton hanya menjadi salah satu pertimbangan di luar faktor bibit, bebet, dan bobot apakah mereka akan melanjutkan perkawinan atau tidak. Penghitungan weton di Desa Sepande tidak seperti dulu lagi karena zaman sudah berubah. Nilai-nilai konseling perkawinan sudah termasuk dalam tradisi masyarakat sehingga perhitungan weton dianggap sebagai nasehat untuk berhati- hati ketika akan menikah.
Makna Estetika dan Naratif Simbol Warna Merah dalam Pembentukan Identitas Tokoh Si Cepot Lintang Nadhia Pratiwi; Yuniar Siti Rachmah; Elita Salsabila; Nuraini Nuraini
HANA: Humanities and Academic Narratives in Education Vol. 1 No. 1 (2025): HANA: Humanities and Academic Narratives in Education
Publisher : Asosiasi Asesmen Pendidikan (AAP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63203/hana.v1i1.435

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami representasi warna merah dalam wayang golek si cepot. Warna merah sering dikaitkan dengan konotasi negatif. Dalam penelitian ini, penulis akan menyelidiki warna yang ada dalam karakter wayang dari berbagai aspek. Warna dapat berfungsi sebagai simbol dan makna yang memberikan peringatan kepada orang-orang tentang apa yang harus dan tidak boleh mereka lakukan. Subjek penelitian ini adalah karakter wayang si cepot, yang berwarna merah. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa ada makna yang melekat pada warna merah dalam wayang golek si cepot dengan menggunakan berbagai metode analisis warna. Warna merah dipandang sebagai keinginan, bahaya, panas dan dikaitkan dengan emosi. Warna merah pada wayang golek si cepot memiliki makna simbolis yang mendalam. Makna ini melampaui sekadar estetika dan juga mewakili karakter dan peran si cepot dalam pertunjukan wayang golek. Temuan ini kemudian mengkategorikan warna merah dalam wayang golek sebagai representasi karakteristik manusia seperti keserakahan, keinginan dan keberanian. Namun, warna merah pada wayang pada hakikatnya melambangkan hasrat dan keberanian wayang sebagai pemberontakan terhadap kesewenang-wenangan masyarakat yang selalu tamak akan segala hal. Dengan demikian, wayang merupakan representasi manusia yang digambarkan dalam peran "Si Cepot".
Lunturnya Nilai Humanistik Ondel-ondel Betawi: Narasi Budaya dan Tantangan Pelestariannya Aisya Fadilla; Faza Izzatun Nuha; Dewi Aistya; Melina Lestari
HANA: Humanities and Academic Narratives in Education Vol. 1 No. 1 (2025): HANA: Humanities and Academic Narratives in Education
Publisher : Asosiasi Asesmen Pendidikan (AAP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63203/hana.v1i1.436

Abstract

Definisi budaya mencakup beragam definisi yang mencerminkan kompleksitasnya sebagai fenomena multidimensi. Secara etimologis, kata budaya berasal dari bahasa Latin "colere" dan dalam bahasa Indonesia dari bahasa Sansekerta "buddhayah". Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor penyebab lunturnya nilai-nilai budaya Ondel-ondel dan mengidentifikasi upaya pelestarian serta revitalisasi tradisi ini agar tetap relevan di tengah dinamika perkembangan zaman. Dengan memahami dinamika perubahan yang terjadi dalam tradisi Ondel-ondel, diharapkan dapat ditemukan solusi efektif untuk mempertahankan dan mengembangkan nilai-nilai budaya Betawi agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian ini adalah dua tokoh masyarakat dan tokoh masyarakat Betawi yang berdomisili di Jakarta. Peneliti melakukan wawancara mendalam terkait penyebab lunturnya nilai-nilai budaya ondel-ondel. Analisis data menggunakan model Miles & Huberman. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan makna Ondel-ondel dalam masyarakat Betawi. Dahulu, Ondel-ondel memainkan peran penting dalam pernikahan adat Betawi dan memiliki fungsi magis sebagai penolak bala. Kini, Ondel-ondel lebih sering digunakan untuk mengamen di jalanan, mengubah persepsi masyarakat terhadap simbol budaya ini dari sakral menjadi profan.
Analysis of Police Code Ethics: Preelemanary Research from Counseling Perspective Arliyus Arliyus
HANA: Humanities and Academic Narratives in Education Vol. 1 No. 1 (2025): HANA: Humanities and Academic Narratives in Education
Publisher : Asosiasi Asesmen Pendidikan (AAP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63203/hana.v1i1.437

Abstract

Negara Indonesia adalah negara yang berbangsa dan bernegara serta tingkah laku warga negara Indonesia sesuai dengan nilai-nilai pancasila yang diatur oleh hukum, salah satunya dijalankan oleh lembaga kepolisian. Kurangnya Polisi mengamalkan kode etik profesi pada diri mereka yang mengakibatkan masih adanya pelanggaran yang dilakukan oleh anggota Polri. Kondisi tersebut bila tidak diintervensi akan berdampak kepada banyaknya anggota polri yang melakukan pelanggaran etik profesi yang menyebabkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap anggota polri. Sehingga perlunya memasukan program bimbingan dan konseling dengan format kelompok yang berbasis peningkatan karakter cerdas ke dalam program pembelajaran pendidikan akademi polisi pada anggota bintara polri. Urgensi pelayanan bimbingan dan konseling dapat diimplementasikan dalam bentuk rancangan pelayanan bimbingan dan konseling di pendidikan bintara polri yang berfokus pada “peningkatan karakter pada bintara polri” dengan bantuan layanan PKC-KO (Pendidikan Karakter Cerdas-Kelompok).
Filosofi dan Pendidikan: Pandangan John Dewey serta Implikasi pada Bimbingan dan Konseling di Sekolah Irfan Hadi; Candra Prasiska Rahmat
HANA: Humanities and Academic Narratives in Education Vol. 1 No. 1 (2025): HANA: Humanities and Academic Narratives in Education
Publisher : Asosiasi Asesmen Pendidikan (AAP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63203/hana.v1i1.438

Abstract

Pendidikan di era modern mengalami pergeseran yang signifikan akibat perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang pesat. Pembelajaran tidak lagi terbatas pada transfer pengetahuan, tetapi menuntut pengembangan berpikir kritis, kemampuan mengambil keputusan, dan pertumbuhan manusia secara holistik. Namun, banyak sekolah masih menerapkan pendekatan yang berpusat pada guru dan pasif yang tidak selaras dengan kebutuhan peserta didik. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan konseptual antara praktik pendidikan dan landasan filosofis yang mendukung pembelajaran berbasis pengalaman, demokratis, dan berpusat pada siswa. Untuk menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi filosofi progresivisme John Dewey dan mengkaji implikasinya terhadap pengembangan program bimbingan dan konseling di sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif kepustakaan. Data dikumpulkan dari buku, artikel, dan dokumen penelitian yang relevan. Proses analisis data meliputi pemetaan sumber, reduksi, analisis isi, interpretasi konseptual, dan sintesis. Penelitian ini dilakukan dalam waktu kurang lebih tiga bulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa filosofi Dewey selaras dengan peran ideal bimbingan dan konseling sebagai layanan yang bersifat perkembangan, preventif, dan fasilitatif. Pandangan Dewey mendukung peran konselor sebagai fasilitator pembelajaran, mendorong bimbingan berdasarkan pengalaman, dan memperkuat keterlibatan demokratis dalam program konseling. Penelitian ini berkontribusi secara teoretis dengan menawarkan kerangka kerja konseptual untuk layanan konseling berbasis progresif dan secara praktis dengan mengarahkan sekolah untuk mengadopsi model yang lebih humanis, partisipatif, dan berbasis pengalaman. Penelitian selanjutnya direkomendasikan untuk mengeksplorasi implementasi dan evaluasi berbasis lapangan.
Morfofonemik dalam Teks Berita pada Kolom "Tren" di Platform Online Kompas.Com Vidya Vidya; Desma Yuliadi Saputra
HANA: Humanities and Academic Narratives in Education Vol. 1 No. 2 (2026): HANA: Humanities and Academic Narratives in Education
Publisher : Asosiasi Asesmen Pendidikan (AAP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63203/hana.v1i2.489

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis proses morfofonemik yang ditemukan dalam berita Tren di Kompas.com serta menganalisis pola-pola perubahan bunyi yang muncul. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan linguistik terapan, khususnya dalam pemantauan penggunaan bahasa Indonesia di ruang digital.  Proses Morfofonemik adalah perubahan bunyi yang timbul akibat pertemuan morfem terikat dan morfem bebas. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik simak dan catat. Data diambil dari artikel berita populer 2026. Hasil penelitian menunjukkan adanya berbagai fenomena morfofonemik seperti pemunculan fonem peluluhan fonem. Penggunaan bahasa dalam platform online cenderung mengikuti kaidah baku.  Menghasikan data morfofonemik dengan jumlah data sebanyak 17 data. Dalam kajian liguistik penelitian ini membantu untuk lebih memahami dalam pembentukan katapun terdapat proses dan aturannya.
Pembentukan Karakter Survival Siswa melalui Media Film: Studi Eksperimen pada Film Drawing Closer dan 18x2 Beyond Youthful Days Siti Sarah Salsadita; Christine Masada Hirashita Tobing; Dery Purnama Saefudin
HANA: Humanities and Academic Narratives in Education Vol. 1 No. 2 (2026): HANA: Humanities and Academic Narratives in Education
Publisher : Asosiasi Asesmen Pendidikan (AAP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63203/hana.v1i2.492

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembentukan karakter survival siswa melalui narasi tokoh film Drawing Closer dan 18x2 Beyond Youthful Days. Karakter survival dipahami sebagai kemampuan siswa dalam membangun ketahanan diri, refleksi makna hidup, serta sikap adaptif dalam menghadapi tantangan personal dan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen melalui desain Pre-Experimental Pre-Test and Post-Test. Subjek penelitian meliputi peserta didik kelas X Perhotelan 2 dan X DPB 2 di SMKN 32 Jakarta Selatan dengan jumlah responden 59 siswa, serta didukung data dari guru bimbingan dan konseling, wali kelas, dan pihak kurikulum kesiswaan. Layanan penguasaan konten berbasis narasi tokoh film digunakan sebagai media pembelajaran reflektif yang mendorong pemaknaan nilai dan pengalaman kemanusiaan siswa. Analisis data dilakukan menggunakan uji Paired Samples t-Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test, dengan nilai signifikansi (2-tailed) sebesar 0,000 < 0,05. Temuan ini mengindikasikan bahwa pemanfaatan narasi tokoh film dalam layanan penguasaan konten berpengaruh secara signifikan terhadap pembentukan karakter survival siswa. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis narasi melalui media film dapat menjadi alternatif pedagogis yang efektif dalam mendukung pendidikan karakter dan pengembangan nilai kemanusiaan di lingkungan sekolah menengah kejuruan.
Analisis Makna Lebaran Ketupat di Kabupaten Grobogan Jawa Tengah Anisa Alfisyah; Natasya Java Zeiza Shaputri; Regita Cahya Widadari; Melina Lestari
HANA: Humanities and Academic Narratives in Education Vol. 1 No. 2 (2026): HANA: Humanities and Academic Narratives in Education
Publisher : Asosiasi Asesmen Pendidikan (AAP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63203/hana.v1i2.495

Abstract

This research aims to analyze the meaning of Ketupat Eid in Grobogan Regency, Central Java. This research uses a qualitative approach with narrative methods. Researchers conducted interviews with two community leaders in Grobogan Regency, Central Java. Data analysis uses Miles Huberman with stages of data collection, organizing data, reading data, coding, developing categorization, interpreting data, verifying findings, and presenting findings. The results of this research are that Eid Ketupat has deep social and religious meaning. Apart from being a form of gratitude after completing the Shawwal fast, this celebration also strengthens social and family ties. This event is often accompanied by friendly activities, visiting each other with family and neighbors, and sharing typical foods such as ketupat, opor ayam, and fried chili sauce. Overall, Eid Ketupat is not only an extension of the Eid al-Fitr celebration, but also an opportunity to strengthen social ties and revive local traditions that have been passed down from generation to generation.
Academic Self-Efficacy Profile of Fifth-Semester Students Awalya Siska Pratiwi; Abel Embun Bunga Salsabila
HANA: Humanities and Academic Narratives in Education Vol. 1 No. 2 (2026): HANA: Humanities and Academic Narratives in Education
Publisher : Asosiasi Asesmen Pendidikan (AAP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63203/hana.v1i2.497

Abstract

The stages of learning development in students are complex internal experiences, not merely a matter of scores or academic achievement, but also require individuals to manage their belief in their own potential. One psychological aspect that plays a role in supporting student academic success is self-efficacy, which is an individual's belief in their capacity to complete a learning task or specific job optimally. This study uses a quantitative approach with a descriptive method. The population consisted of all fifth-semester students in one class at Universitas Negeri Malang, with a total of 30 students selected through total sampling. The population consisted of all fifth-semester students in one class at Universitas Negeri Malang, with 30 students selected through total sampling. The research instrument was a Self-Efficacy Scale registered under Intellectual Property Rights (HKI), comprising 21 items on a Likert scale and the reliability through Cronbach's alpha (α = 0.898). The results show that 53% of fifth-semester students fall in the high self-efficacy category and 47% in the moderate category, with no students in the low category. These findings suggest that most students have a good level of academic self-confidence in facing academic tasks, shaped by accumulated learning experiences across previous semesters. Several factors thought to influence self-efficacy include mastery experience, vicarious experience, verbal persuasion, and psychological states.
Narrative Literacy and Digital Storytelling in Indonesian Language Education: A Humanistic Framework for Values, Identity, and Critical Digital Literacies Zathu Restie Utami; Agus Kurniawan Agus
HANA: Humanities and Academic Narratives in Education Vol. 1 No. 2 (2026): HANA: Humanities and Academic Narratives in Education
Publisher : Asosiasi Asesmen Pendidikan (AAP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63203/hana.v1i2.510

Abstract

Humanities-centered education positions language learning as a space where identity, values, and meaning are negotiated through narrative. In Indonesia, persistent challenges in reading performance, alongside rapid digital transformation, create an urgent need for pedagogy that strengthens narrative literacy while cultivating critical digital literacies (OECD, 2023a; OECD, 2023b). This article develops a humanistic framework for integrating digital storytelling (DST) into Indonesian language education to support (a) narrative competence, (b) value formation and cultural identity, and (c) ethical, critical, and creative participation in digital culture (UNESCO, 2024; Katadata & Sibercakap Digital, 2023). Using a scoping review approach, literature from 2021–2025 on DST, multimodal composing, multiliteracies pedagogy, and narrative inquiry is synthesized (Jiang & Hafner, 2024; Veyis et al., 2025). The synthesis highlights mechanisms through which DST contributes to writing development and engagement (Ajabshir, 2024; Meletiadou, 2022), and it foregrounds GenAI-era risks and equity issues that demand critical ethical literacy (Kim et al., 2025; Rapanta et al., 2025). The paper proposes design principles, an instructional sequence, assessment indicators, and safeguards to guide Indonesian language teachers.

Page 1 of 1 | Total Record : 10