Rencong merupakan senjata tradisional sekaligus warisan budaya Aceh yang merepresentasikan sejarah, filosofi, dan identitas masyarakatnya. Seiring perkembangan zaman, fungsi rencong bergeser dari senjata ke benda bernilai estetis, seperti cendera mata, hiasan dinding, dan aksesori adat. Transformasi fungsi ini menunjukkan adaptasi budaya untuk menjaga keberlanjutan eksistensi rencong. Namun, pasca pandemi COVID-19, sektor kerajinan rencong mengalami penurunan signifikan, diperparah oleh desain produk yang monoton dan kurang inovatif, terutama pada ornamen bilah logam. Menjawab kebutuhan tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkenalkan teknik Electrochemical Etching with Stencil Masking kepada para pengrajin di Desa Baet, Aceh Besar. Teknik etsa elektrokimia ini merupakan metode yang sederhana, murah, dan ramah lingkungan untuk menghasilkan ornamen pada permukaan logam, serta berpotensi memperkaya variasi desain rencong. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi sosialisasi, penyampaian materi dasar mengenai proses etching, praktik perancangan desain, demonstrasi teknis, hingga penerapan langsung pada media seng plat dan bilah rencong. Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa peserta mampu memahami prinsip kerja dasar etsa elektrokimia, termasuk pengaturan tegangan listrik, penggunaan bahan resist, pemahaman sifat logam, dan prosedur keselamatan kerja. Peserta menghasilkan beberapa prototipe motif pada seng plat dengan kualitas yang meningkat setelah sesi evaluasi dan pendampingan. Pada tahap lanjutan, sebagian peserta mampu menerapkan teknik etching pada bilah rencong dengan tingkat kerapian dan kejelasan motif yang baik. Kegiatan ini juga memfasilitasi kolaborasi antara pengrajin dan siswa SMK dalam merancang motif yang menggabungkan elemen tradisional Aceh dengan pendekatan desain modern. Luaran kegiatan meliputi karya rencong berhias ornamen, dokumentasi proses, serta modul pelatihan teknik etsa yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh mitra sasaran.
Copyrights © 2026