ABSTRAK Tenun tradisional di Kabupaten Alor, khususnya di Desa Batu, merupakan bagian penting dalam pelestarian budaya dan ekonomi masyarakat. Namun, kelompok tenun di Desa Batu masih menghadapi permasalahan dalam penggunaan pewarna alami karena keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam teknik ekstraksi dan pewarnaan benang, sehingga masyarakat lebih banyak menggunakan pewarna sintetis yang kurang ramah lingkungan. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui metode pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan keterampilan kelompok tenun dalam memanfaatkan bahan alami sebagai pewarna. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Batu pada tanggal 16–18 Juli 2025 dengan melibatkan 20 orang anggota kelompok tenun sebagai mitra kegiatan. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan, demonstrasi, praktik langsung, serta pendampingan dalam proses pencucian benang, mordanting menggunakan tawas, ekstraksi daun kelor, pencelupan benang, dan pengeringan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pelatihan penggunaan daun kelor sebagai pewarna alami mampu meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam melakukan proses pewarnaan benang secara mandiri. Selain itu, pemanfaatan daun kelor sebagai bahan pewarna alami berpotensi meningkatkan nilai tambah produk tenun, mendukung penggunaan bahan ramah lingkungan, serta memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.Kata kunci: Alami; Kelor; Pelatihan; Tenun; Tradisional. ABSTRACTTraditional weaving in Alor Regency, particularly in Batu Village, plays a vital role in preserving the community’s culture and economy. However, the weaving group in Batu Village still faces challenges in using natural dyes due to limited knowledge and skills in thread extraction and dyeing techniques, leading the community to rely more on synthetic dyes that are less environmentally friendly. Therefore, this community service activity was carried out through training and mentoring to improve the weaving group’s skills in utilizing natural materials as dyes. This activity was held in Batu Village on July 16–18, 2025, involving 20 members of the weaving group as activity partners. The methods used included lectures, demonstrations, hands-on practice, and mentoring in the processes of washing yarn, mordanting using alum, extracting moringa leaves, dyeing yarn, and drying. The results of the activity showed that training on the use of moringa leaves as a natural dye was able to improve participants’ understanding and skills in independently carrying out the yarn dyeing process. Additionally, the use of moringa leaves as a natural dye has the potential to increase the added value of woven products, support the use of environmentally friendly materials, and strengthen the economic empowerment of the local community.Keywords: Natural; Moringa; Training; Weaving; Traditional.
Copyrights © 2026