Penelitian ini bertujuan mengkomparasikan strategi adopsi dan implikasi pedagogis Artificial Intelligence (AI) pada pendidikan Islam di dua konteks demografis berbeda: komunitas Muslim mayoritas (Indonesia) dan minoritas (Thailand). Menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus komparatif di SMK Ma’arif NU 02 Kemiri dan Chariyathamsuksa Foundation School, data dianalisis menggunakan teori Diffusion of Innovation dan Technology Acceptance Model (TAM). Hasil penelitian mengungkap polarisasi strategi yang signifikan. Di Indonesia, integrasi AI bersifat Structural-Driven (Top-Down) yang didukung kebijakan negara, namun mengalami "paradoks kepatuhan" dengan konsistensi penggunaan yang rendah. Sebaliknya, di Thailand, integrasi bersifat Value-Driven (Bottom-Up) sebagai strategi pertahanan identitas (survival strategy), yang memicu militansi adopsi tinggi demi kepentingan dakwah. Secara pedagogis, siswa Indonesia berorientasi pada pragmatisme teknis, sedangkan siswa Thailand berorientasi pada penguatan nilai Islam. Penelitian ini merekomendasikan diplomasi pendidikan untuk menjembatani kesenjangan kompetensi teknis dan nilai antar sekolah Islam di ASEAN.
Copyrights © 2026