Generasi Z hidup dalam era digital yang penuh distraksi, tekanan sosial, dan ketidakpastian, yang berdampak pada meningkatnya masalah kesehatan mental seperti kecemasan, stres kronis, dan krisis identitas. Dalam konteks ini, pengendalian diri menjadi kebutuhan penting untuk menjaga stabilitas psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep pengendalian diri dalam Stoisisme, khususnya melalui pemikiran Marcus Aurelius dan Abdullah Al-Haddad serta relevansinya terhadap kesehatan mental generasi Z saat ini. Penelitian ini Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil kajian mengungkapkan bahwa Marcus Aurelius menyoroti pentingnya pengendalian diri melalui prinsip-prinsip logis seperti dichotomy of control, premeditatio malorum, dan pengelolaan persepsi untuk mencapai ketenangan batin. Di sisi lain, Abdullah Al-Haddad lebih menekankan pengendalian diri dari sudut pandang spiritual, seperti mujahadah al-nafs, penyucian hati atau tazkiyah al-nafs, pengendalian hawa nafsu dan emosi, serta penguatan jiwa melalui dzikir dan ibadah. Meskipun keduanya bertujuan untuk membentuk jiwa yang stabil, mereka memiliki pendekatan yang berbeda: Stoisisme bersifat rasional dan filosofis, sementara tasawuf yang diajarkan Al-Haddad lebih bersifat spiritual dan merujuk kepada Al-Qur’an. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi pendekatan rasional Stoisisme dan pendekatan spiritual tasawuf dapat menjadi kerangka alternatif yang relevan dalam memperkuat pengendalian diri dan menjaga kesehatan mental Generasi Z di tengah tantangan kehidupan modern.
Copyrights © 2026