Mohamad Hudaeri
UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGENDALIAN DIRI MENURUT MARCUS AURELIUS DAN ABDULLAH AL-HADDAD: RELEVANSINYA TERHADAP KESEHATAN MENTAL GENERASI Z Siti Wikoyatul Widiah; Mohamad Hudaeri; Agus Ali Dzawafi
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 10 No 1 (2026): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tajdid: jurnal pemikiran keislaman dan kemanusiaan.v10i1.6387

Abstract

Generasi Z hidup dalam era digital yang penuh distraksi, tekanan sosial, dan ketidakpastian, yang berdampak pada meningkatnya masalah kesehatan mental seperti kecemasan, stres kronis, dan krisis identitas. Dalam konteks ini, pengendalian diri menjadi kebutuhan penting untuk menjaga stabilitas psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep pengendalian diri dalam Stoisisme, khususnya melalui pemikiran Marcus Aurelius dan Abdullah Al-Haddad serta relevansinya terhadap kesehatan mental generasi Z saat ini. Penelitian ini Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil kajian mengungkapkan bahwa Marcus Aurelius menyoroti pentingnya pengendalian diri melalui prinsip-prinsip logis seperti dichotomy of control, premeditatio malorum, dan pengelolaan persepsi untuk mencapai ketenangan batin. Di sisi lain, Abdullah Al-Haddad lebih menekankan pengendalian diri dari sudut pandang spiritual, seperti mujahadah al-nafs, penyucian hati atau tazkiyah al-nafs, pengendalian hawa nafsu dan emosi, serta penguatan jiwa melalui dzikir dan ibadah. Meskipun keduanya bertujuan untuk membentuk jiwa yang stabil, mereka memiliki pendekatan yang berbeda: Stoisisme bersifat rasional dan filosofis, sementara tasawuf yang diajarkan Al-Haddad lebih bersifat spiritual dan merujuk kepada Al-Qur’an. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi pendekatan rasional Stoisisme dan pendekatan spiritual tasawuf dapat menjadi kerangka alternatif yang relevan dalam memperkuat pengendalian diri dan menjaga kesehatan mental Generasi Z di tengah tantangan kehidupan modern.
MEMANUSIAKAN MANUSIA: REFLEKSI KRITIS ATAS GAGASAN KEMANUSIAAN DALAM PEMIKIRAN GUS DUR DAN NELSON MANDELA Arya Cipta Wandana; Mohamad Hudaeri; Agus Ali Dzawafi
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol. 9 No. 2 (2025): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v9i2.4711

Abstract

Penulisan jurnal ini bertujuan merefleksikan secara kritis gagasan kemanusiaan dalam pemikiran Gus Dur dan Nelson Mandela sebagai respons terhadap tantangan dehumanisasi kontemporer. Fenomena intoleransi, diskriminasi berbasis identitas, polarisasi politik, dan krisis kemanusiaan global menunjukkan urgensi kajian ini. Subjek penelitian ini adalah pemikiran kemanusiaan Gus Dur dan Nelson Mandela, yang dianalisis secara komparatif. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis dan studi pustaka (library research). Data dikumpulkan dari literatur (buku, jurnal, artikel) dan dianalisis menggunakan metode kualitatif komparatif untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Keduanya menggunakan posisi politiknya untuk mengimplementasikan prinsip-prinsip kemanusiaan. Kemudian Gus Dur dan Nelson Mandela memiliki fondasi kemanusiaan pada humanisme, pluralisme, dan perjuangan anti-penindasan. Keduanya menjunjung tinggi nilai anti-kekerasan dalam mencapai perubahan. Perbedaannya terletak pada konteks dan implementasi, Gus Dur fokus pada pluralisme agama dan budaya di Indonesia dengan pendekatan dialogis, sementara Mandela fokus pada perjuangan anti-diskriminasi dan anti-rasisme yang pendekatannya dengan konsep rekonsiliasi dan pengampunan pasca-apartheid di Afrika Selatan. Gagasan kemanusiaan kedua tokoh ini dapat menjadi inspirasi dan solusi konkret dalam mengatasi tantangan kemanusiaan di era modern, mendorong sikap saling menghargai dan keadilan universal.
PENGENDALIAN DIRI MENURUT MARCUS AURELIUS DAN ABDULLAH AL-HADDAD: RELEVANSINYA TERHADAP KESEHATAN MENTAL GENERASI Z Siti Wikoyatul Widiah; Mohamad Hudaeri; Agus Ali Dzawafi
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol. 10 No. 1 (2026): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tajdid.v10i1.6387

Abstract

Generasi Z hidup dalam era digital yang penuh distraksi, tekanan sosial, dan ketidakpastian, yang berdampak pada meningkatnya masalah kesehatan mental seperti kecemasan, stres kronis, dan krisis identitas. Dalam konteks ini, pengendalian diri menjadi kebutuhan penting untuk menjaga stabilitas psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep pengendalian diri dalam Stoisisme, khususnya melalui pemikiran Marcus Aurelius dan Abdullah Al-Haddad serta relevansinya terhadap kesehatan mental generasi Z saat ini. Penelitian ini Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil kajian mengungkapkan bahwa Marcus Aurelius menyoroti pentingnya pengendalian diri melalui prinsip-prinsip logis seperti dichotomy of control, premeditatio malorum, dan pengelolaan persepsi untuk mencapai ketenangan batin. Di sisi lain, Abdullah Al-Haddad lebih menekankan pengendalian diri dari sudut pandang spiritual, seperti mujahadah al-nafs, penyucian hati atau tazkiyah al-nafs, pengendalian hawa nafsu dan emosi, serta penguatan jiwa melalui dzikir dan ibadah. Meskipun keduanya bertujuan untuk membentuk jiwa yang stabil, mereka memiliki pendekatan yang berbeda: Stoisisme bersifat rasional dan filosofis, sementara tasawuf yang diajarkan Al-Haddad lebih bersifat spiritual dan merujuk kepada Al-Qur’an. Dengan demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi pendekatan rasional Stoisisme dan pendekatan spiritual tasawuf dapat menjadi kerangka alternatif yang relevan dalam memperkuat pengendalian diri dan menjaga kesehatan mental Generasi Z di tengah tantangan kehidupan modern.