Penelitian ini mengkaji peran "Mbok Mase" atau perempuan bangsawan/priyayi dalam memimpin dan mengembangkan industri batik di sentra Laweyan, Surakarta, selama era kolonial (1900-1970). Berbeda dengan narasi umum yang sering menonjolkan peran pengusaha laki-laki, studi ini berfokus pada dinamika kepemimpinan perempuan dalam ranah ekonomi, khususnya di tengah tekanan pasar global. Melalui pendekatan historis-analitis, ditemukan bahwa perempuan priyayi tidak hanya berperan sebagai pengelola keuangan atau pewaris, tetapi juga sebagai inovator desain, pengambil keputusan strategis dalam produksi dan pemasaran, serta penjaga kualitas dan tradisi motif batik. Posisi sosial mereka, yang terintegrasi dengan jaringan kekuasaan keraton, memberikan keuntungan unik dalam mengakses modal, bahan baku, dan pasar elit, menjadikannya kunci sukses. Masa kolonial, dengan segala tantangan perubahan sosial dan ekonomi, termasuk masuknya batik cap dan persaingan impor, justru menempatkan Mbok Mase sebagai figur sentral yang menjembatani tradisi dan modernitas. Mereka sukses mempertahankan keberlangsungan usaha keluarga (Batik Kompeni/Saudagar) melalui manajemen yang adaptif, sekaligus menegaskan otonomi dan kekuatan ekonomi perempuan dalam masyarakat Jawa, memberikan sumbangsih penting bagi perekonomian lokal. Kata Kunci: Mbok Mase; Perempuan Priyayi; Batik Laweyan; Surakarta; Masa Kolonial
Copyrights © 2025