Transformasi ekonomi digital yang didorong oleh FinTech menjanjikan inklusi keuangan, namun secara paradoks berpotensi memperlebar kesenjangan digital-finansial bagi populasi rentan akibat rendahnya Literasi Finansial Digital (LFD). Respons pendidikan tradisional seringkali gagal mengakomodasi keragaman kebutuhan belajar. Artikel ini mengatasi kesenjangan teoretis tersebut dengan mengonstruksi Model Tinjauan Teoretis (MTT) TPI-LFD, yang memposisikan Teknologi Pendidikan Inklusif (TPI)—berlandaskan prinsip Universal Design for Learning (UDL)—sebagai variabel mediator kunci. TPI didefinisikan sebagai integrasi infrastruktur digital dan kerangka pedagogis UDL yang fokus pada aksesibilitas kognitif dan keterlibatan multimoda. Model ini beroperasi dalam tiga fase: Inklusi Akses, Transformasi Kapabilitas (LFD dan Efikasi Diri), dan Aktualisasi Dampak (Perilaku Finansial Adaptif). MTT TPI-LFD memproyeksikan bahwa desain teknologi yang inklusif dapat meningkatkan kompetensi LFD dan self-efficacy individu, yang pada akhirnya memicu perubahan perilaku finansial adaptif di level mikro. Secara agregat, perubahan perilaku ini merupakan determinan krusial yang berkontribusi pada mitigasi kesenjangan sosial-ekonomi di level makro. Model ini menawarkan landasan konseptual bagi perumus kebijakan untuk merancang strategi inklusi ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan, menuntut reorientasi dari sekadar penyediaan konten menuju desain instruksional yang humanis.
Copyrights © 2023