Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki beragam jenis tumbuhan yang banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Tumbuhan loa telah banyak diteliti dan diketahui bagian tanaman seperti daun, buah, kulit dan akarnya memiliki potensi farmakologi seperti antibakteri, antioksidan, antiinflamasi dan lain-lain. Namun sejauh ini belum ada eksplorasi penelitan terkait bintil (galls) daun loa. Bintil (galls) pada daun loa merupakan bentuk abnormal daun sebagai wujud pertahanan diri dari serangan hewan patogen. Dalam pengobatan tradisional, bintil daun loa, oleh masyarakat Lombok Tengah dimanfaatkan untuk mengobat penyakit kulit yang digunakan secara topical, tetapi sejauh ini belum ada bukti ilmiah yang mendukung kalim tersebut. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan senyawa fitokimia dalam ekstrak etanol bintil daun loa, yang diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai kandidat senyawa obat. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Skrining fitokimia ekstrak etanol 70% bintil daun loa (Ficus racemosa L.) positif mengandung golongan senyawa fenolik, tanin, flavonoid, saponin, alkaloid, dan steroid/terpenoid. Analisis dengan instrument GC-MS menunjukkan terdapat 40 kemungkinan komponen senyawa terbesar yang teridentifikasi dengan GC-MS dan terdapat 5 Senyawa golongan metabolit sekunder seperti alkaloid, & terpenoid. Lima senyawa tersebut Adalah Pyridine, 3-(1-methyl-2-pyrrolidinyl), 2-Hexadecen-1-ol (Phytol) (15,55%), 2H-Pyran,2-(2-heptadecynyloxy) (13,37%), 4,8,13-Cyclotetradecatriene-1,3-diol (2,62%), 2-Heptanamine, 5-methyl (0,22%). Keberadaan senyawa yang teridentifikasi dapat berpotensi sebagai bahan obat karena diketahui memiliki potensi aktivitas farmakologis seperti antioksidan, antibakteri, antiinflamasi dan antivirus.
Copyrights © 2026