Polarisasi dalam jaringan gerakan sosial menjadi fenomena yang semakin menonjol di era digital, terutama dengan berkembangnya media sosial sebagai ruang interaksi. Penelitian ini menganalisis polarisasi aktor dalam jaringan gerakan sosial dengan pendekatan analisis jaringan sosial (Social Network Analysis). Data yang digunakan berasal dari interaksi di platform Twitter terkait dengan gerakan sosial tertentu. Studi ini mengeksplorasi peran aktor utama, pola hubungan antaraktor, serta bagaimana modularitas jaringan mempengaruhi polarisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan gerakan sosial memiliki tingkat modularitas yang tinggi, di mana komunitas-komunitas dalam jaringan cenderung berinteraksi dalam kelompoknya sendiri dan jarang berhubungan dengan komunitas lain. Efek echo chamber yang kuat menyebabkan informasi dalam kelompok menjadi semakin homogen dan memperkuat bias kognitif anggotanya. Selain itu, ditemukan bahwa aktor dengan tingkat degree centrality yang tinggi berperan sebagai gatekeeper informasi, menentukan arah narasi yang berkembang di komunitasnya. Polarisasi juga diperkuat oleh algoritma media sosial yang memprioritaskan interaksi berbasis kesamaan ideologi, sehingga menghambat penyebaran perspektif yang lebih beragam. Studi ini menyoroti pentingnya strategi komunikasi lintas komunitas serta penggunaan bridging nodes untuk mengurangi polarisasi. Selain itu, penelitian ini menggunakan kecerdasan buatan (AI) dalam mengolah data jaringan dan pola komunikasi, sehingga meningkatkan akurasi dalam memahami dinamika polarisasi. Temuan ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi pembuat kebijakan dan pengelola platform media sosial dalam merancang strategi mitigasi polarisasi
Copyrights © 2025