Artikel ini mengkaji transformasi pastoral Gereja Katolik dalam merespons disrupsi teknologi digital melalui pendekatan kualitatif dengan metode analisis konten dan tinjauan literatur sistematis terhadap sumber-sumber teologis, sosiologis, dan komunikasi religius terkini. Penelitian berfokus pada tiga dimensi utama: rekonfigurasi model pastoral, strategi inkulturasi, dan pengembangan kompetensi digital. Hasil analisis menunjukkan bahwa internet telah berevolusi dari sekadar alat menjadi lingkungan yang membentuk pola pikir, mendorong pergeseran dari model ekklesiologi hierarkis menuju ekklesiologi jaringan yang partisipatif. Inkulturasi digital menjadi imperatif pastoral yang menuntut dialog kreatif antara iman Katolik dan budaya digital, dengan mengintegrasikan adaptasi linguistik, metodologis, dan estetik. Evangelisasi virtual membuka peluang ekspansi jangkauan, namun menghadirkan risiko reduksi iman menjadi konten superfisial. Kesenjangan digital merupakan tantangan etis yang memerlukan pendekatan hibrida untuk memastikan inklusivitas. Digital teologi menjadi fondasi epistemologis untuk pengembangan pastoral autentik, sementara kompetensi digital bagi pelayan pastoral menjadi prioritas strategis. Studi menyimpulkan bahwa pastoral digital harus dipahami sebagai perluasan misi tradisional dalam ekosistem terintegrasi yang memaksimalkan potensi masing-masing modalitas.
Copyrights © 2025