Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh suku bunga, jumlah uang beredar, dan nilai tukar terhadap inflasi di Indonesia dan Malaysia selama periode 2015–2024. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis explanatory research. Data yang digunakan merupakan data sekunder dalam bentuk data panel, yaitu kombinasi data time series tahunan periode 2015–2024 dan data cross section dari dua negara, Indonesia dan Malaysia. Data diperoleh dari Bank Indonesia, Bank Negara Malaysia, Badan Pusat Statistik, serta Department of Statistics Malaysia. Metode analisis yang digunakan adalah regresi data panel dengan bantuan perangkat lunak EViews 12. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model terbaik yang digunakan dalam penelitian ini adalah Common Effect Model (CEM). Secara parsial, variabel suku bunga memiliki pengaruh positif namun tidak signifikan terhadap inflasi. Variabel jumlah uang beredar juga menunjukkan pengaruh positif dan tidak signifikan terhadap inflasi. Sementara itu, nilai tukar memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap inflasi di Indonesia dan Malaysia selama periode penelitian. Secara simultan, ketiga variabel independen tersebut juga tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap inflasi. Nilai Adjusted R-Squared sebesar 13,67% menunjukkan bahwa kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi inflasi relatif kecil. Hal ini mengindikasikan bahwa inflasi di kedua negara lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian, seperti harga komoditas global, kebijakan fiskal, gangguan rantai pasok, serta faktor eksternal lainnya. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa dinamika inflasi tidak hanya dipengaruhi oleh instrumen moneter konvensional, tetapi juga oleh faktor struktural dan kondisi ekonomi global yang lebih luas.
Copyrights © 2026