Aktivitas muat barang berbahaya di pelabuhan mengandung tingkat risiko yang signifikan bagi keselamatan manusia, kapal, dan lingkungan, sehingga pengawasannya harus dilakukan secara ketat dan terstruktur. Peningkatan volume muatan barang berbahaya di Pelabuhan Tanjung Priok menyebabkan kompleksitas pengawasan yang juga semakin meningkat oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Priok, namun masih ditemukan keterlambatan serta ketidaksesuaian dengan standar operasional prosedur. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi risiko operasional, menentukan risiko prioritas, serta merumuskan langkah mitigasi dengan metode deskriptif kualitatif melalui pendekatan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dan Root Cause Analysis (RCA). Hasil penelitian menunjukkan terdapat 13 risiko operasional dengan kode R1-R13 yang berasal dari faktor sumber daya manusia, proses, teknologi, dan eksternal. Berdasarkan hasil analisis, risiko prioritas tertinggi dari Risk Priority Number (RPN) terdapat pada R8 dengan nilai 120 (Immadiate Mitigation), R6 dengan nilai sebesar 84 (Mitigate), R11 dengan nilai 72 (Monitor), R7 dengan nilai 64 (Monitor), serta R4 dengan nilai 60 (Monitor). Analisis Root Cause Analysis (RCA) dengan Fishbone Analysis penyebab risiko operasional meliputi faktor Man, Methode, Machine, Materials, dan Environtment. Upaya mitigasi dilakukan melalui peningkatan pengawasan lapangan, optimalisasi pemeriksaan dokumen, penambahan sumber daya manusia, serta perbaikan sistem digital. Penerapan manajemen risiko secara sistematis dapat meningkatkan efektivitas pengawasan dan meminimalkan risiko operasional.
Copyrights © 2026