Pengelolaan tenaga kefarmasian yang tepat menjadi faktor kunci dalam menjamin mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit. Kompleksitas pelayanan farmasi, baik pada unit rawat inap maupun rawat jalan, menuntut adanya keseimbangan antara jumlah tenaga dengan beban kerja yang ada. Penulisan ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan sumber daya manusia (SDM) tenaga kefarmasian berdasarkan beban kerja aktual pada instalasi farmasi rumah sakit. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder berupa jumlah pasien, jenis pelayanan, serta aktivitas kefarmasian. Analisis dilakukan menggunakan metode Workload Indicators of Staffing Need (WISN) dan dibandingkan dengan metode rasio sesuai standar pelayanan kefarmasian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga kefarmasian pada unit rawat inap telah terpenuhi secara optimal, baik untuk apoteker maupun tenaga teknis kefarmasian, sehingga beban kerja dapat terdistribusi secara merata. Sebaliknya, pada unit rawat jalan ditemukan adanya kekurangan tenaga, terutama apoteker, yang menyebabkan tingginya beban kerja dan berpotensi menurunkan kualitas pelayanan. Pembahasan menunjukkan bahwa perbedaan karakteristik pelayanan antara rawat inap dan rawat jalan mempengaruhi kebutuhan tenaga. Rawat jalan memiliki beban kerja yang lebih tinggi dan fluktuatif, sehingga membutuhkan jumlah tenaga yang lebih besar. Kesimpulannya, perencanaan SDM berbasis beban kerja sangat penting untuk mencapai keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan tenaga, khususnya pada unit rawat jalan yang memerlukan penambahan tenaga guna meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien.
Copyrights © 2026