Penyu yang melakukan peneluran memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap cahaya, pergerakan, dan kebisingan di lingkungan sekitar. Adapun faktor yang dapat mempengaruhi sensitivitas penyu di luar kemampuan penjagaan oleh pihak konservasi, yaitu faktor alam seperti hujan. Fenomena hujan dapat menimbulkan gangguan seperti kebisingan suara serta cahaya yang dapat mengganggu kenyamanan penyu saat melakukan pendaratan dan berujung pada kegagalan peneluran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hujan terhadap penyu yang mendarat untuk bertelur di Kawasan Konservasi Pantai Pangumbahan. Metode pengambilan data pada penelitian ini menggunakan metode survei teknik observasi dan pengumpulan data sekunder. Observasi dilakukan selama 2 minggu di Pantai Pangumbahan untuk mengetahui tingkah laku penyu saat kondisi hujan dan tidak hujan. Data sekunder terdiri dari data citra curah hujan selama satu tahun pada tahun 2022 yang diunduh melalui perangkat lunak GsMAP, serta data penyu yang berhasil maupun gagal bertelur selama satu tahun pada tahun 2022 yang diambil dari logbook Balai Konservasi Pantai Pangumbahan. Kemudian tingkah laku penyu saat hujan dan tidak hujan dianalisis secara deskriptif, sementara pada data citra curah hujan dan persentase penyu yang berhasil bertelur dilakukan analisis statistik metode korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan dan persentase keberhasilan penyu bertelur memiliki korelasi yang kuat dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar -0.6542, yang artinya semakin tinggi curah hujan di Pantai Pangumbahan maka semakin rendah tingkat keberhasilan peneluran penyu di pantai tersebut. Penyu yang bertelur saat kondisi hujan cenderung menghabiskan durasi yang lebih singkat, memilih lokasi yang agak jauh dari area vegetasi, serta memiliki sensitivitas yang lebih rendah dibandingkan penyu yang bertelur saat kondisi tidak hujan.
Copyrights © 2026