Perkembangan pendidikan yang terus meningkat sesuai dengan perubahan zaman, menyebabkan para siswa mengalami stress dan depresi. Siswa mengalami stress dan depresi disebabkan karena kurikulum belajar yang terus mengalami perubahan dari kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) berubah menjadi kurikulum 2013 dan sekarang di tahun 2022 diterapkannya menjadi kurikulum merdeka belajar. Perubahan tersebut menekankan proses pembelajaran yang berpusat kepada siswa dengan lebih lebih menekankan kreativitas dan inovasi siswa. Menurut pendapat Gibson K (2004) menjelaskan bahwa psikolog dan ahli perkembangan anak mulai sependapat bahwa anak-anak pada saat ini telah kelebihan kegiatan. Kegiatan ekstrakurikuler yang banyak di jumpai di sekolah dapat meningkatkan bakat anak, namun tidak sedikit dari anak tersebut juga tidak mampu mencapai harapan tinggi dari aktivitas yang mereka jalani bahkan sebagian yang lain mengalami depresi. Stress akibat aktivitas di sekolah dapat dirasakan oleh siswa terutama mereka yang mengalami kesulitan belajar termasuk diantaranya kesulitan dalam berkonsentrasi
Copyrights © 2023