Ruang publik yang berkembang menjadi pusat aktivitas perkotaan sering menghadapi tantangan baru terkait aksesibilitas dan keterhubungan spasial yang memengaruhi kenyamanan serta kualitas ruang secara keseluruhan. Kawasan Balai Buntar Bengkulu merupakan ruang publik utama di Kota Bengkulu yang menampung beragam aktivitas, seperti olahraga harian, kegiatan ekonomi informal (UMKM), dan acara berskala besar. Aktivitas tersebut menciptakan vitalitas kawasan, namun juga menimbulkan tekanan pada sistem pergerakan dan tata ruang. Penelitian ini bertujuan mengkaji akses dan keterhubungan sebagai kerangka placemaking dalam menilai kualitas desain ruang publik. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif melalui observasi lapangan, analisis spasial, serta wawancara semi-terstruktur dengan pengunjung dan pedagang. Analisis mengacu pada indikator kontinuitas, kedekatan, konektivitas, keterbacaan, walkability, kenyamanan, dan aksesibilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kawasan memiliki kontinuitas aktivitas dan konektivitas yang kuat, aspek kenyamanan, walkability, dan aksesibilitas belum optimal akibat dominasi kendaraan dan praktik parkir informal.
Copyrights © 2026